FNKSDA Jember : Puisi Maraton 12 Jam Untuk Masyarakat Kendeng.

JATIMAKTUAL, JEMBER,- (15/01/16) Aksi baca puisi kemanusiaan selama 12 jam digelar oleh Front Nahdliyyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) Wilayah Jember. Puisi tersebut diperuntukkan untuk membela masyarakat desa di daerah pegunungan Kendeng di Rembang Jawa Tengah. Pembacaan puisi selama 12 Jam tersebut dibacakan di jantung kota Jember dimulai dari jam 09.00-21.00 yang berisikan tentang kemanusiaan, lingkungan, dan perlawanan.

Aksi baca puisi tersebut diikuti oleh anggota FNKSDA Jember, Komunitas Tanah Liat, dan PMII cabang Jember, serta simpatisan perjuangan lingkungan lainnya. Hal itu juga merupakan respon dan peringatan kepada pemerintahan Jember bahwa masyarakat dan aktivis lingkungan di Jember menolak penuh segala macam bentuk pertambangan yang ada di kabupaten Jember.

Alif Raung koordinator FNKSDA Jember  mengatakan "Agenda ini sebagai solidaritas kami sebagai warga Jember yg juga tidak menutup kemungkinan akan mengalami nasib yg sama dgn warga Kendeng. Dan Ganjar, Gubernur Jateng yg saat ini tidak menunjukkan keberpihakannya kepada rakyat, harus paham, bahwa di daerah lain, ia juga mendapatkan perlawanan"

Dia juga menuturkan bahwa saat ini masyarakat di sekitar pegunungan Kendeng dibuat resah oleh sikap yang belum jelas dari Pemprov Jateng mengenai koorporasi yang ada di kabupaten Rembang yang dalam hal ini adalah PT. Semen Indonesia. Sudah ada sekitar 944 hari masyarakat di desa Tegal Dowo yang ada di pintu masuk pabrik semen berdiri tegak menolak pendirian pabrik tersebut. 

Ganjar Pranowo Gubernur Jawa Tengah telah menerbitkan izin baru untuk kelangsungan proses pertambangan. Walaupun sebelumnya masyarakat Kendeng telah memenangkan hasil putusan Mahkamah Agung tentang pencabutan izin lingkungan kepada PT. Semen Indonesia di Rembang. Masyarakat menganggap Gubernur Jateng tidak berpihak kepada rakyat yang selama ini berjuang mempertahankan keutuhan lingkungan mereka. Masyarakat dibuat resah karena kalau izin tambang itu keluar, maka lingkungan dan mata pencaharian mereka akan terancam.

Pembacaan puisi maraton oleh aktivis lingkungan di Jember ini semata-mata mendukung masyarakat di pegunungan Kendeng di Rembang untuk juga menolak izin pertambangan. Selain itu mereka menolak tegas pertambangan yang ada di Silo dan Paseban. Mereka menganggap eksploitasi sumber daya alam yang ada di negara ini tidak memberikan dampak positif apapun kecuali kesengsaraan yang berkepanjangan yang menurun kepada anak cucu mereka.

Pembacaan puisi selesai sekitar jam 22.00 Sabtu malam. Setelah itu mereka para aktivis menggelar doa bersama untuk keselamatan masyarakat dan bangsa Indonesia. (azz)

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment