Yesus, Tuhan Kaum Muslim Juga? [selamat hari Natal dari Seorang Mukmin]

Oleh: Kholili 
Tempat dan tanggal: gedung setia aswaja, 25_12_16.
Jam: 03:31 Wib

JATIMAKTUAL, ESAI,- Tema ini saya terinspirasi dari artikel yang ada di AIAT (Asosiasi ilmu alquran dan tafsir), digagas oleh mu'in sirri, kehidupan kita selama ini tidak bisa di nafikan dari ranah multi keberagaman khususnya indonesia yang punya asas pancasila sebagai mobilisasi sekaligus supramasi hukum yang mengintegritaskan semua multi dalam bingkai keharmunisan.  Mungkin yang menjadi pertanyaan pembaca, bisakah yesus menjanjadi tuhan umat islam?? Kalau saya boleh berkataan pak muin, mungkin tidak perlu bagi saya untuk menjab dengan kata "iya" dan "tidak" untuk menghindari kompleksitas masalah sebab jawaban itu bagu saya "hitam putih" sumu dalam tataran ideologi (pemahaman) kita.

Mui sebagai presentatif umat islam sering kali mengeluarkan fatwa yang mengkresditkan umat kristen yakni secara linguistik statemen yang dikeluarkan oleh MUI secara tidak langsung mengharap ada bertikaian antar agama atau kata gusdur inhumorisme dijiwa_jiwa umat islam bahkan fatwa baru_baru ini melegalkan pemakaian alat_alat natal umat islam, yang secara kontistusi agama dilarang.

Perlu kiranya saat ini kita bicara secara subtansial mengenai yesus sebagai tuhan dan sya akan merefleksikan berapa argumentasi yang perlu kita pahami bersama dengan pikiran yang dingin, saya akan mencoba mengutip poin_poin penting yang disampaikan oleh pak mu'in.

Pertama, mengenai ketuhanan Yesus merupakan sumber kontestasi teologis paling rumit antara komunitas Kristen dan Muslim. Kerap sekali Pertanyaan yang dimunculkan umat islam ialah: Bagaimana mungkin Yesus sebagai manusia bisa menjadi Tuhan sekaligus? Faktor pertanyaan ini tidak dibicarakan secara memadai telah menggiring sebagian kaum Muslim untuk menuduh umat Kristiani telah menyekutukan Tuhan.

Kedua, rumitnya kontestasi teologis soal ketuhanan Yesus tidak dengan sendirinya menjadikan persoalan tersebut tak boleh disentuh dan unthinkable. Sebaliknya, justru kita perlu mulai memikirkan pertanyaan-pertanyaan sulit yang sejauh ini kerap menjadi kendala bagi koeksistensi genuine antar-komunitas berbeda keyakinan (islam_kristen).

Ketiga, apabila kita menyikapi dengan kepala dingin, pertanyaan di atas dapat membantu menyingkap tabir_tabir pertikaian yang menyelimuti alam pikiran kaum Beriman (baca: Muslim dan Kristen) tentang perbedaan konsepsi tentang Tuhan.

Apabila kita melacak kepada kitab suci (alquran) mungkin kita tidak akan menemukan nama yesus tapi alqutan memberitakan kepada kita bahwa ada anak (Isa) dilahirkan dari seorang ibu (siti maryam) tanpa ayah, sehingga umat islam menolak pernyataan bahwa isa anak tuhan.

Apabi kita menilisik kembali (to back analition ) mengenai istilah isa yang juga terdapat dalam Kitab Suci umat Kristiani, seperti “al-masih”, “rasul”, “kalimah”, mengakui atau tidak al-Qur’an tidak menggunakannya dalam makna yang sama. Berbagai dialog antara Tuhan dan Isa yang direkam al-Qur’an dimaksudkan untuk memberikan aksentuasi bahwa tak ada makhluk yang ambil bagian dalam ketuhanan, selain Allah.

Poin terakhir ini dikembangkan oleh para teolog Muslim dalam konsep “tanzih”, yakni transendensi Tuhan bahwa tuhan tidak bisa dikomparasikan dengan apa pun atau dengan siapa pun. Sebagaimana yang sudah digoreskan dalam al-Qur’an (42:11), “laisa kamitslihi syai’un” (tiada yang menyerupai-Nya). Maka, dalam teologi Islam, “tanzih” (transendentalisme) dan “tauhid” (monoteisme) menjadi kata kunci dalam memahami siapa Tuhan.

Berangkat dari konteks inilah kritik al-Qur’an terhadap ketuhanan Yesus seharusnya dipahami: "Jangan jadikan manusia sebagai Tuhan atau menyekutukan Tuhan dengan makhluk-Nya"

Mungkin Yang perlu segera dicatat adalah, umat Kristiani juga menolak apa yang dikritik al-Qur’an, karena mereka tidak menjadikan manusia sebagai Tuhan atau menyekutukan-Nya dengan makhluk. Terkait aspek pertama, Yesus dipahami sebagai inkarnasi Tuhan, suatu penjelmaan Ilahi ke alam manusiawi untuk berbagi kehidupan bersama umat manusia.

kehadiran Tuhan dalam wujud Yesus bagi umat kristen merupakan suatu kebanggaan sebab baginya ilahiyah yang menjelma dalam manusia berwujud yesus sebuah hadiah (gift) dan sekaligus rahmat (grace) yang memberikan indikasi bahwa yesus suatu wujud yang diberikan fungsi dalam menjalan gerakan ubudiyah yang membentuk kedekatan dengan manusia dalam hubungan yang sangat intimate. Memang, dalam kepercayaan Nicea yang dicetuskan tahun 325 disebutkan “Yesus adalah manusia sepenuhnya dan Tuhan sepenuhnya”. 
Formulasi teologis ini merupakan respons terhadap mereka yang mempersoalkan watak kemanusiaan dan ketuhanan Yesus, dan/atau pandangan (terutama di kalangan Gnostik) yang menyebut Yesus sebagai bayang-bayang Tuhan atau penjelmaan dan bukan manusia.

Sehingga dari krangka diskursus teologis ini atau bisa disebut sebagai perdebatan toelogis menyebut Yesus sebagai sepenuhnya manusia dan sepenuhnya Tuhan bukan tanpa masalah. Sesuai dengan statemen gademer yang mengatakan "semua tidak akan bebas nilai" maka perlu kita bersikap arif dalam menyikapi ranah teologi kita (islam) dan umat kristen denga arif agar tidak terjebak pada simbol ke syirikan (menyekutukan Tuhan dengan manusia), maka umat kristen membuat formulasi doktrinitas yang bernama Trinitas yang menegaskan keesaan Tuhan dengan tiga uqnum (hypostases), yakni Bapa, Anak, dan Ruh Kudus walaupun asal ini tidak ada dalam kitab injil tapi perlu kita menyadari bahwa pergulatan antara islam dan kristen sangat kental sehingga tidak bisa bungkiri mengenai munculnya trinitas dalam kristen karena bergulatan sejarah.

Sebagaimana yang disebut oleh pak mu'in bahwa Dalam konteks ini sangat riil bahwa doktrin Trinitas yang berada dalam doktrin teologis umat kristen dikembangkan untuk menghindari syirik, suatu dosa yang disebut al-Qur’an sebagai tak terampuni. Maka, perlu ditekankan, yang dikritik al-Qur’an adalah keimanan pada tiga Tuhan (syirik), suatu keyakinan yang sedari awal dijauhi oleh umat Kristiani dengan doktrin Trinitas. Konsep tiga Tuhan itu disebut Triteisme, bukan Trinitas.

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment