Sejarah "Om Telolet Om"




Oleh: Kholili, 22_12_16
Tempat: swalankerto

JATIMAKTUAL, OPINI,- Banyak dari kalangan temen_temen saya yang menanyakan awal munculnya "om telolet om" sehingga perlu kiranya saya sedikit menjelaskan apa yang saya ketahui, awal munculnya "om telolet om " ini berawal dari tereksposnya video-video “om telolet om” dimedsos. Yang mana Video itu  diabadikan oleh seseorang yang melihat kegirangan anak-anak di pinggir jalan yang menanti datangnya bus besar antar-kota.


Bumingnya sebutan " om telolet om" ini berasal dari suara klakson bus yang diburu oleh orang terutama remaja dan anak-anak. Suara klakson dari bus berbunyi "telolet" memang fenomenal dan memancing anak-anak di berbagai daerah untuk mengabadikan.

Bunyi yang seakan menyebut kata “telolet” sendiri tak lain adalah bunyi klakson bus antar-kota. 

Sehingga menarik perhatian Anak-anak untuk meminta om sopir bus mengeluarkan bunyi “telolet” ketika melintas. Maka dari itu, ujung-ujungnya fenomena ini disebut “om telolet om”, mencontohkan permintaan anak-anak ke om sopir.

Fenomena “’om telolet om’ ini merupakan seruan dari sejumlah orang ketika ada bus besar lewat. Bunyi klakson yang nyaring dan khas mungkin bisa dikatakan alasan utama ‘demam’ ini muncul. Sekedar jadi hiburan, suara tersebut terlihat sukses membuat gelak tawa hadir, terutama bagi anak-anak.

Bahkan, salah satu DJ internasional yakni DJ Snake juga mengunggah status 'om, telolet om' di akun Instagram pribadinya @djsnake.

Entah apa alasannya, DJ Snake juga menyelipkan komentar 'om, telolet om', tak tanggung-tanggung, di Instagram milik Donald Trump.

Konyol memang, ketika Donald Trump mengunggah status serius terkait kemenangannya di Pemilihan Presiden Amnerika Serikat, eh DJ Snake malah komentar begini.

"Om Telolet OM," tulis DJ Snake di kolom komentar. (tribun com).

Orang mengatakan ‘tradisi’ ini muncul d wilayah Pantura di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Karena di kawasan tersebut, memang terdapat banyak bus besar melintas.

Seiring bertambah kepopulerannya, tak jarang orang dewasa pun melakukan hal yang sama. Pengunggah video “om telolet om” hendak menyampaikan bahwa kebahagiaan bisa muncul dari hal-hal sederhana. Lama-kelamaan, banyak versi video “om telolet om” yang muncul dan jadi guyonan. Tak cuma “om telolet om” dari bus antar-kota, ada juga dari penjual es krim yang tak kalah menggelitik. Beberapa orang pun membuatkan video “om telolet om” versi pesawat.

    ~relasi om telolet dengan politik~

"Om telolet om"  merupakan tranding topik baru yang ada di indonesia, bagi saya kalimat ini muncul sebagai transisi dari ricuhnya politik di indonesia yang tidak usai_usai di perbincangkan oleh kaum elit yang mengintervensi pola pikir kaum poletar.

"Om telolet om" muncul ditenggah_tenggah masyarakat indonesia sebagai hiburan (homoris), selain itu kalimat tersebut hadir sebagai peringatan bagi para petinggi politik dan kaum yang punya kewenangan mengatur indonesia (presiden dan kabinetnya), bahwa para penggatur negara harus bsa memahami kehidupan masyarakat yang kiranya bisa mempetakan skenario yang dirancang oleh conggus_conggus barat atau internal bangsa sendiri, ,om telolet om datang sebagai indikasi life game "terkadang apa yang kita perjuangkan itu permain". 

Menurut saya ini hantaman keras bagi Pemerintah dan masyarakat bahwa terkadang apa yang kita bicarakan dengan serius itu hanya menertawai para petinggi politik yang punya kepentingan misalnya tranding topik 'penista agama' yang juga hangat diperbincangkan, kedatangan "telolet" yang merupakan bunyi kelangson bus merupakan kehangatan bagi anak_anak SD ketika datang bus dengan panggilan "om telolet om" permintaan yang diajukan kepada pengendara untuk direstui (bunyi klangson) relasinya dengan ricuh politik indonesia adalah bagaimana antara masyarakat dan pemerintah bisa saling memahami dengan konteks negara tidak usah memperjuangkan apa yang tidak akan merusak keutuhan NKRI dan domekrasi tapi pemerintah dan masyarakat harus bisa memahami ancaman NKRI seperti radikalisme dan terorisme yang sudah berkembang pesat di Indonesia.

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment