PMII DI BAWAH KEPEMIMPINAN CUCU NABI MUHAMMAD SAW

Oleh: Fauzan Amin (mahasiswa pasca sarjana Univ.Nahdatul Ulama’ Jakarta)

PROFILE
Nama : Habib Muhammad Iqbal Assegaf
lahir : Bacan, Maluku Utara, 12 Oktober 1957
meninggal : Jakarta, 13 Februari 1999 pada umur 41 tahun
Karir : Politisi GOLKAR, DPR RI periode 1998-2003
Organisasi : Ketua Umum PMII 1988-1991, Ketua Umum GP Ansor 1995-1999

LAHIR DARI TANAH BACAN
Lahir dikampung Bajo, sebuah desa terpencil dipulau Bacan kab Maluku Utara pada pada tanggal 12 oktober 1957, Iqbal adalah anak keempat dari dua belas orang bersaudara yang
semuanya laki-laki. Kedua orang tuanya, Bapak habib Husein Ahmad Assegaf dan Ibu Rawang Abdullah Kamarullah, adalah orang desa yang hidup sangat sederhana namun sangat
dihormatioleh pendududk desa. Ayahnya selain berpengetahuan agama yang cukup luas, adalah keturunan langsusng dari Habib Umar Assegaf, adalah seorang pejuang kemerdekaan keturunan arab yang berasal dari Palembang dan menikah dengan Raden Ayu Azimah, Putri
sultan Badaruddin II. Kira kira pada awal abad ke20. Habib Umar Assegaf yang berjuang bersama Sultan Badaruddin II melawan kolonialis Belanda, tertangkap dan keduanya
kemudian dibuang ke Tondano.

PENGGERAK NALAR KRITIS KAUM MUDA

Baginya Islam itu ramah bukan marah, nasionalisme menjadi prinsip, dan aswaja’ sebagai ruh tiap gerak, krakter dan pola fikir nya sudah terlihat sejak aktif menjadi mahasiswa, Setidaknya tunas muda kader PMII ini semakin terlihat kwalitasnya sebagai motor perubahan
ketika dia terpilih menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) masa bakti 1988-1991, Beliau adalah Habib Muhammad Iqbal Assegaf
keturunan rosulullah Saw.

Sejarah panjang di awali dari keterlibatan iqbal di berbagai organisasi kepemudaan, baik intra
mapun ekstra kampus, iqbal membuktikan Komitmennya terhadap dunia pergerakan, Meski terkadang suka meledak-ledak, ide dan gerakanya tentu menjadi fenomena menarik di kancah generasi muda bangsa, tentu dalam rangka membuka mata dan membangun kepercayaan
masyarakat terhadap pemuda yang selama ini terasa asing di mata publik lantaran suara mereka terkekang oleh rezim. Maka keberadaannya sebagai Ketua Umum PB PMII iqbal tidak jarang membuat merah telinga para pejabat Orde Baru. Padahal saat itu mayoritas organisasi kepemudaan tampil tidak lebih sebagai “buntut” yang semata-mata tunduk nan patuh pada pemerintah, iqbal hadir dengan nalar kritis PMII pada saat organisasi kepemudaan lainnya terbobok.

Iqbal adalah Ketua Umum PB PMII yang relatif dianggap paling sukses memimpin dan membesarkan PMII, setelah Mahbub dan Zamroni. Ia pernah bersikap sangat tegas menolak
gagasan dan saran sebagian tokoh dan Kiyai-kiyai NU yang menginginkan agar PMII kembali “Dependen dengan NU”. Sikap tegas itu ia tunjukkan dengan mengeluarkan keputusan “Penegasan Cibogo”. Sehubungan dengan itu, ia pernah megeluarkan statemen “PMII dengan rendah hati siap menerima pendapat, gagasan, dan saran, bahkan kritik dari siapapun, tetapi keputusan tetap berada di tangan PMII”. Itulah cermin dari sikap seorang pemimpin yang Independen.
Setelah memimpin PMII, “karir politik tokoh muda lulusan IPB Bogor ini mulai mengkristal.

Ghirah sebagai aktivis semakin menyala ketika habib Iqbal maju sebagai calon Ketua Umum GP Ansor dalam kongres Palambang pada September 1995. Dalam kongres itu, habib Iqbal terpilih menjadi Ketua Umum Ansor untuk masa bhakti 1995 – 2000. Terpilihnya habib Iqbal
semakin memperkokoh sosoknya sebagai seorang aktivis yang melakukan banyak sekali perubahan khususnya di tubuh GP. Ansor.

Di era hiruk pikuk gerakan reformasi beliau juga aktif mendorong terciptanya perubahan signifikan melalui meja tugas nya sebagai anggota DPR RI periode 1998-2003 lewat partai golkar. Namun sayang, disaat dunia sumringah menyambut kiprah nya, masyarakat indonesia
menunggu kibaran panji martabatnya, allah datang untuk memanggilnya.

Kematian tidak ada yang tau kapan datangnya, Sabtu, 13 Februari 1999, Kecelakaan dipintu keluar tol Cawang – Tanjung Priuk menyebabkan sang cucu nabi Meninggalkan seorang
isteri dan 3 orang anak untuk selamanya, beliau dimakamkan dipemakaman keluarga habib
Al Hadad, kalibata Jakarta Selatan.

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment