Menghargai Perayaan Tahun Baru.

JATIMAKTUAL, ESAI,- Memasuki tahun baru nasional perlu kiranya kita sebagai umat islam mengevaluasi diri sebab berubahan tahun baru bukanlah sebuah transisi hidup tapi bagaimana kiranya kita memaknai tahun baru sebagai hijrah kehidupan, sebagaimana yang sudah di tauladani oleh rosulullah, Semangat hijrah Nabi untuk menjadi lebih baik, dan semangat untuk migrasi dari zona penderitaan ke zona kebahagiaan sejati merupakan pesan inti dari makna hijrah

Semangat rosulullah harus menjadi acuan kita dalam menyamput tahun baru, hijrahnya nabi muhammad ke yastrib bukanlah tidak ada tujuan pasti ia hijrah sebab mekah salah satu penduduk keras sehingga beliu berinisiatif untuk hijrah kemadinah untuk membuka pintu baru dalam membentuk perdamaian dunia. 

Tahun baru akan menggundang Fitnah akhir zaman, Fitnah yang dimaksud bukanlah dalam arti menyebarkan berita bohong melainkan ujian atau cobaan dalam bentuk yang bisa beragam yang sifatnya memalingkan manusia dari jalan bahagia banyak kalangan umat islam mengertikan tahun baru merupakan tahun yahudi karena perayaannya yang hura_hura, kembang api dan petisan menghiasi langit dimalam hari, pemuda pemudi yang tidak tidur menunggu datangnya tahun baru

Kalau kita merenungkan hadits Rasulullah SAW:Akan terjadi menjelang Kiamat nanti hari-hari dimana ilmu agama ditarik dan kebodohan merajalela di mana-mana, serta terjadi berbagai bentuk kekacauan di seluruh penjuru bumi. Dan kekacauan dimaksud berbentuk pembunuhan. (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini dengan jelas meramalkan akhir zaman sebagai saat di mana kekacauan dan pembunuhan akan menjadi fenomena massif. Ketika sebagian umat islam merayakan tahun baru ditunding sebagai orang yahudi, saat sebagian umat islam berkreasi trompet dilarang untuk dijual saat tahun baru, ini semua akibat dari ketidak mengertian manusia akan agama islam

Agama islam sebagai rahmatan lil alamiin tidak lagi menjadi kunci terwujudnya kedamaian, toleransi, dan kesatuan dalam Negara kebhinekaan. 

Ini semua akibat umat islam memahami agama hanya sebatas etimologi, mereka menerjemahkan semua prilaku umat lain atau sebagian umat islam sebagai prilaku biadab atas perayaan tahun baru yang hura_hura bahkan ditunding sebagi orang yahudi dan lain sebagainya.

Ketidak pahamnya sebagian umat islam atas sebuah ekspresi umat lain dalam menyamput tahun baru dengan ekspresi perbeda dianggap prilaku orang yahudi, bagaimana ia akan menciptakan perdamaian dunia seperti yang sudah dilakukan nabi muhammad.

Hijrah nabi kezona yang lebih baik perlu kiranya tidak hanya sekedar memahami ritual nabi (sholawat, baca alquran dan tasbih) tapi bagaimana kita mengambil nilai perdamaian yang beliu goreskan dalam diri kita dalam menciptakan "saling menghargai" yang tidak mengklaim dan menjustis prilaku umat yang lain salah.

Datangnya tahun baru dengan samputan petisan, kembang api dan lain_lain perlu diharga oleh umat islam yang merasa terganggu sebab tidak baca sholawat, tasbih dan ritual lain, ekspresi yang perbeda mari kita maknai sebagai, kesenangan yang perbeda jangan pernah kita maknai sebagai kutukan antar umat.(Kholili)

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment