JURNALISME KAUM MARGINAL

JATIM AKTUAL, ESAI- Minan, Muhibbin dan Sofyan Hadi serta kun Wazis dalam salah satu karyanya "Jurnalisme Pesantren". Kelima dosen IAIN Jember tersebut dalam sebuah karyanya telah menyampaikan perlawanan senyap para santri terhadap media mainstream. Media arus utama dengan kapital besar yang mengkonstruksi fakta, data sesuai selera dan kepentingannya. Media ditangan pemodal besar menjadi alat control sosial, termasuk penentu selera makan, lipstik bahkan selera politik. Kini media berkembang pesat yang diikuti oleh Menjamurnya budaya gossip dan budaya menggoreng Isu. bahkan hidup dan kehidupan seolah sudah diatur oleh ritme permainan media mulai dari cara menggosok gigi hingga cara unjuk gigi, itu lah media,mesin utama pembentuk dogma, norma, etika dan moral ala sang penguasa dan pemilik kapital.

Media bebas mengkonstruksi wacana yang layak menurut nalar penguasa atau sipemilik media, bukan nalar publik yang seharusnya karenanya publik selalu menjadi korban dan tumbal menu masakan media, terutama mereka yang kurang memiliki akses kuat terhadap ekonomi, kekuasaan dan pendidikan. Lemahnya akses dan networking menjadikan masyarakat kecil, kaum miskin kota selalu menempati posisi marjinal dalam pewartaan. Mereka tidak pernah berdaulat di tangan suprimasi media dominan.

Publik sudah saatnya berdaulat pemberitaan dan mengahiri kolonialisasi wacana melalui jurnalisme kaum marjinal. Kaum yang terpinggirkan dapat menjadi pembanding dominasi media arus utama. Mereka bisa bersuara dimanapun ruang publik berada. Dengan kemajuan tehnologi, publik bisa bersuara diruang-ruang media sosial dengan jurnalistik yang lebih transparan,kritis dan bertanggung jawab.

kaum marjinal sudah saatnya merdeka dari pencaplokan media, hidup harus sesuai selera publik bukan selera penguasa dan pemodal. hal ini bisa dilakukan melalui jalinan koniktivitas medsos dengan berbagai variannya.Publik bisa menghakimi realitas kehidupan melalui nalar-nalar kritis serta pemberitaan yang sesungguhnya.Sehingga dagangan citra dan polesan palsu lainnya akan tidak laku dan percuma karena publik sudah menjadi pemilik kehidupan yang sebenarnya, disini lah pentingnya bagi gerilyawan sosial untuk mengajari setiap warga melek jurnalistik. Latih mereka menjadi pewarta yang baik dan peramu data yang objektif serta konstruktor realitas yang memihak pada masyarakat arus bawah.

Posisi Melawan mungkin kata itu yang cocok bagi kaum marjinal melalui karya jurnalisme para gerilyawan sosial.Hidup dan kehidupan ini milik publik, karenanya publik harus selalu melawan pada setiap bentuk penindasan.Jurnalisme harus hadir ditengah masyarakat marjinal, mereka bisa belajar bagaimana melawan atau bagaimana caranya memberikan pencerahan dan pendidikan sebagaimana Minan dan kawan-kawan dalam menjadikan santri sebagai basis perlawanan sosial terhadap media dominan. Jurnalisme kaum marjinal dapat menjadi media alternatif dalam mentransformasikan ide serta menu kehidupan yg sesungguhnya diruang-ruang sosial.

Sebuah Refleksi oleh Dasuki Aufklarung,
Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Kamis 1/10/2016. (Arul)***

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment