PHILO-SHOP (Mentalitas Bangsa Indonesia Antara Konsumtif dan Produktif)

JATIM AKTUAL, ESAI,- TV one merilis kurang lebih 2,8 juta jiwa masyarakat Indonesia pernah belanja ke singapura. Pada saat yang sama majalah FORBES melansir bahwa Indonesia menempati 5 besar rengking masyarakat dunia yang suka belanja, ini budaya konsumtif masyarakat sudah merajalela (shopaholic).

Sihir media berhasil menaklukan rasionalitas masyarakat Indonesia dengan tausiyah-tausiyah kepalsuan media opera, mitos belanja mengalahkan logos kebutuhan hidupnya, sehingga belanja yang berlebihan menjadi ukuran dan trend masyarakat berkemajuan dan berpradaban.

Semua orang pernah berbelanja namun tidak semua orang suka berbelanja, belanja bukan hanya sekedar untuk memenuhi hasrat kebutuhan, tetapi sudah menjadi trend dan budaya, lebih-lebih orang yang suka berpenampilan perfectsionis, nicis,  dan parlente.

Indonesia menjadi sasaran strategis utama barang-barang dari berbagai negara. Masyarakatnya yang permisif dan mulai apatis dimanfaatkan dengan baik untuk mendorong gila-gilaan belanja, termasuk belanja Narkoba. Sebagai masyarakat permisif tentu penggunaan emosi lebih kuat dari pada penggunan kognisi yang menjadi penyebab hilangnya dialektika kritis dalam memahami setiap gejala, termasuk gejala artis diiklan-iklan media. Iklan dan opera yang disponsori oleh artis kenamaan berkontribusi atas kuasa pengetahuan masyarakat kita, kuasa pengetahuan belanja merubah dan meruntuhkan segala hal.

Kuasa pengetahuan belanja telah merusak kesadaran kreatif menjadi kesadaran konsumtif, sehingga prilaku konsumerisme merambah pada seluruh aspek kehidupan. Setiap orang dilatih memakai dan menghabiskan bukan justru di didik memproduksi, mengeksplorasi, dan menginovasi pengetahuannya sendiri.

Budaya konsumeris telah membentuk sistem mental fak (mental sistem) baru dalam kehidupan yang mendektum sesuatu bersifat praktis-pragmatis dan cepat saji. Mental fak baru pun merambah pada dunia ilmiah, masyarakat ilmiah yang konon sebagai produsen pengetahuan, kini banyak tenggelam pada dunia cepat saji, mereka merubah tradisi diskusi menjadi ngerumpi,bicaranya penuh persepsi dan asumsi, bahkan karya-karyanya yang lahir mengikuti ritme pasar pragmatis, karya pertarungan/kompetisi kehidupan banyak beralih pada karya tips-tips cantik, tips makanan, tips kaya bahkan tips memborong surga.  

Tidak ayal jika lembaga penerbitan buku-buku kritis harus pragmatis untuk menghindari dari gulung tikar karena sudah tidak diminati banyak orang, rupanya pelembagaan kuasa pengetahuan belanja mengalih fungsikan lembaga penerbitan untuk turut serta meracuni pikiran kritis menjadi pragmatis, pikiran panjang menjadi cepat saji. 

Inilah imprealisme kuasa pengetahuan baru yang mendorong dengan cepat masyarakat dunia menjadi masyarakat komsumtif yang kalah suatu saat nanti menjadi ancaman bagi krisis energi dan pangan. 

Jember 
sebuah Refleksi oleh Dasuki Aufklarung, 
Dosen Tetap Fakultas Tarbiyah IAIN Jember, 
Sabtu 03/9/2016.(Arul JA)

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment