MEMBANGUN AKTULISASI JIWA PEMIMPIN BERPRESTASI

By: Eko Darsono
Semester 3 Prodi TBI

JATIMAKTUAL,ESAI,- Membangun berarti membangkitkan sesuatu untuk berdiri, bangun untuk melangkah. aktualisasi adalah menjadikan sesuatu betul-betul terjadi. Jiwa adalah seluruh kehidupan batin manusia(yang terjadi dari perasaan, pemikiran angan-angan dan lain-lain). Pemimmpin adalah orang yang memiliki atau diberikan wewenang untuk memimpin atau mengatur sebuah organisasi. Prestasi, diambil dari bahasa English achievement artinya pencapaian, dari itu saya bisa mengambil kesimpulan bahwa prestasi adalah pencapaian yang kita proleh.  

Menurut ongki arista ujang arisandi prestasi adalah ketetapan dalam melakukan kebaikan, dengan alasan ketika kebaikan yang orang dikemudian hari berhenti dan diganti oleh perbuatan keji maka dengan peristiwa demikian tidak bisa beliau mengatan itu dalah prestasi. Kebanyakan peserta Leadership Training tanggal 4 September 2016 mengatakan bahwa “prestasi adalah tercapainya sesuatu yang kita inginkan”.

Pada esensinya pemimpin adalah pemimpin yang bisa mempertahankan kebaikan, mengaplikasikan kebijaksanan, dan mengangkat kebenaran. Banyak sekali pemimpin yang tidak pantas menjadi seorang pemimpin dikarenakan pemimpin tersebut tidan bisa mempertahankan kebaikan, mengaplikasikan kebijaksanaan, dan mengangkat kebenaran, sehingga pemimpin itu tidak lagi dipercaya oleh masyarakatnya, tidak dihargai, direndahkan derajatnya, bahkan dicaci dan menjadi buah bibir masyarakat. Terbukti kalau pembaca perna membaca sejarah runtuhnya Dinasti Umayyah, disebabkan pemimpin yang tidak bisa mempertahankan kebaikan, mengaplikasikan kebijaksanaan, dan menganngkat kebenaran, maka akibatnya cacian sekaligur pemberontakan terjadi dimana-mana karena ketidak puasan dan merasa telaah dimarjinalkan oleh pemimpin pada saat itu. 

Berani menjadi pemimpin berani mendapat  cemoan, kritikan,dan permasalahan lainnya, bagaimana sih caranya untuk meredahkan itu, paling tidak mengurangi kejadian itu, kita tetap pakai teori lama tapi diakui sampai sekarang keampuhannya, apakah itu? “kalau api jangan dibalas dengan api, tapi dibalaslah dengan air” ternyata teori sangatlah manjur apalagi jadi seorang pemimpin. Teori tidak pernah mengajarkan egois pada setiap pengguna, bahkan melenyapkan sifat yang tidak terpuji ini, akan tetapi menumbuhkan sikap manusiawi, yakni mewujutkan mahluk sosial yang memang sudah menjadi hakikat manusia itu sendiri. Ketika kita menjadi seorang pemimpin, kemudian kita dibenci oleh masyarakat kita, karena hal ini tidak mungkin terlepas dari dari pemimpin karena sebaik apapun kepemimpinan seorang pemimpin itu pasti mengalami kesalahan. Caranya kita mendatangi orang yang membenci kita kemudian kita tanya kenapa kamu membenci saya? Terus apa salah saya? Terus apa yang harus saya lakukan untuk kesalahan saya? Intinya kita mintak maaf dan merundingkan masalahnya, saya yakin disamping kita dapat pengalaman dan teori baru untuk memimpin, disamping itu juga kita berhasil menyelesaikan satu masalah.

Kepemimpinan seorang pemimpin tidak bisa dikatakan berhasih ketika yang mengerjakan segala sesuatuatau atau segala persoalan adalah pemimpinnya, dalam arti divisi- divisinya tidak difungsikan atau berfungsi. Pemimpin yang hebat itu bukanal pemimpin yang bisa menghandle segala urusan yang ada, misalkan ketika ada acara sampai nasipun itu pemimpin yang mengurus, jadi jangan salah mengartikan pemimpin yang hebat.  Apalah arti dibentuk kepengurusan kalau toh pada akhirnya tidak difungsikan atau tidak berfungsi sama sekali, miris sekali ketika pemimpin yang menangani segala persoalan. 

Pemimpin harus memiliki tujuh sifat yang apabila salah satunya tidak terpenuhi maka akan terjadi kesenjangan atau kehancuran dari kepemimpinan seorang pemimpin, tujuh sifat yang dimaksut yaitu: Pertama Sifat Rendah Hati, banyak para pemimpin yang mulanya dekat dengan rakyat, turun kebawah, integrasi kepada kaum yang lemah, tapi begitu memiliki kedudukan, timbullah apa yang disebut dalam peribahasa “kalau hari sudah panas, kacang lupa kulitnya”. Abu Bakar Ash Shiddq r.a. 

mengatakan bahwa pada hakikatnya kedudukan pemimpin tidak berbeda dari pada masyarakat biasa, bukan karena ia orang istimewa. Tapi hanya sekedar orang yang didahulukan selangkah, yang mendapatkan kepercayaan dan dukungan orang banyak. Di atas pundaknya terdapat tanggung jawab yang sangat besar dan berat baik terhadap umat, masyarakat pada umumnya,terlebih kepada Allah SWT. Sifat rendah hati bukanlah merendahkan kedudukan seseorang pemimpin, bahkan akan mengangkat derajatnya. Kedua Mengharap Dukungan dan Bersifat Terbuka untuk Dikritik, setiap pemimpin memerlukan dukungan dan partisipasi rakyat banyak. Bagaimanapun ia tak akan bisa melaksanakan tugas-tugasnya tanpa partisipasi orang banyak. Jika orang banyak tersebut bersifat apatis, tidak mau tahu, masa bodoh terhadap segala anjuran dan perintahnya, maka hal ini merupakan tantangan yang sangat berat. Oleh sebab itulah seorang pemimpin harus menerima kritikan dari masyarakatnya. Ketiga Sifat Jujur dan Memegang Amanah, sifat amanah yaitu dipercaya. Dan memelihara kepercayaan orang banyak salah satu sifat kepemimpinan yang penting. Keempat Berlaku Adil, adil adalah menimbang dan memperlakukan sesuatu serupa, tidal pincang dan berat sebelah. Kelima Komitmen dalam Pejuangan, seorang pemimpin haruslah bersikap konsisten dalam perjuangan. Yaitu terus menerus dan lestari dalam berjuang. Dalam suatu perjuangan menegakkan cita-cita dan kebenaran, pasti akan berjumpa dengan halangan dan tantangan. 

Keennam Ditaati dan Bersikap Profesional, seorang pemimpin haruslah mengabdikan diri terhadap misi yangd dipeecayakan di atas pundaknya.ia harus mempunyai wibawah terhadap ummat yang dipimpinnya. Ketuju Berbakti dan Mengabdi kepada Allah SWT, kepemimpinan bersifat manusiawi, yang mana memiliki kekurangan-kekurangan disamping itu juga memiliki kelebihan-kelebihan yang menentukan pada tingkat terakhir yaitu petunjuk ilahi dan garis-garis yang telaah ditentukan. Oleh sebab itu,  seorang pemimpin harus selalu menhubungkan diri kepada Allah dan berbakti kepadanya.

Kekompakan dan Saling memaafkan terkadang menjadi hal yang kita sepelehkan, tapi kedua prilaku ini sebenarnya merupakan komponin yang sangat penting dalam membangun aktualisasi jiwa pemimpin yang berprestasi.menjadi seorang pemimpin hasur mampu memplanning sehingga mampu menciptakan kekompakan di dalam organisasi itu sendiri. Selain itu yang tidak kalah saing pentingnya yaitu saling memaafkan lebih-lebih  ini belaku pada pemimpin selaku pengatur organisasi itu sendiri. Misalkan ada anggota memiliki kesalahan usahakan anggota tersebut tidak merasa meiliki kesalahan yang itu memungkin mereka  tidak lagi mau beorganisasi karena kesalahannya itu. Kita harus bisa bersikap profesional dalam mengaasi masalah yang datang, karena diakui atau tidak kehidupan ini berteman dengan masalah. Apalagi orang  yang hidup di dunia organisasi, yang mana setiap harinya kita berkumpul dengan orang yang memiliki karakter yang berbeda. Tapi ketika kita terapkan teori saling memaafkan saya sakin organisasi itu akan berjalan dan berkembang sebagaiman yang kita inginkan. 

Dalam artian keinginan dari organisasi itu sendiri, sebab sebesar apapun kesalahan kita maka kita akan lalui itu bersama tanpa ada yang tersakiti.

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment