BUDAYA SEKOLAH BERKARAKTER

JATIMAKTUAL, ESAI,- Pendidikan sampai detik ini, masih dipercaya sebagai media yang mujarap dan ampuh dalam membangun dan membentuk kecerdasan sekaligus kepribadian manusia menjadi lebih baik. Oleh karena itu, pendidikan secara terus menerus di kembangkan dan diperbaharui agar dari proses pelaksanaannya mampu menghasilkan generasi yang diharapkan di masa yang akan datang. Demikian pula dengan pendidikan di negeri tercinta ini. Bangsa Indonesia menyadari betapa pentingnya kualitas pendidikan, sehingga bangsa Indonesia tidak ingin menjadi bangsa yg bodoh dan terbelakang mengingat zaman yang terus berkembang, peradaban semakin maju dengan kecanggihan teknologi, informasi, dan komunikasi. 

Untuk itu, perbaikan sumber daya yang cerdas, terampil, mandiri, dan berakhlak mulia terus diupayakan melalui proses pendidikan.

Dalam rangka menghasilkan peserta Didik yang unggul dan berkompeten, proses pendidikan seharusnya juga di evaluasi secara menyeluruh sehingga perbaikan yang terus menerus dilakukan mampu mencapai titik harapan yang diinginkan. 

Salah satu upaya perbaikan kualitas pendidikan adalah munculnya gagasan mengenai pentingnya pendidikan karakter dalam dunia pendidikan di Indonesia. Gagasan ini muncul dipermukaan karena proses pendidikan yang selama ini dilakukan dinilai belum mampu atau sepenuhnya berhasil dalam membangun manusia Indonesia yang berkarakter. 

Bahkan ada juga yang menyebut bahwa pendidikan Indonesia telah gagal dalam membangun karakter. Tentu penilaian ini didasarkan pada banyaknya para lulusan sekolah dan sarjana yang cerdas secara intelektual, namun tidak bermental tangguh dan berperilaku tidak sesuai dengan tujuan mulia pendidikan.

Perilaku yang tidak sesuai dengan tujuan mulia pendidikan misalnya tindak korupsi yang ternyata dilakukan oleh pejabat yang notabenya adalah orang-orang berpendidikan dan berpengetahuan. 

Tindak korupsi ini termasuk penyalahgunaan wewenang dan jabatan. Mengenai hal ini, publik Indonesia sudah mengetahui berapa jumlah para pejabat yang melakukan perbuatan tidak terpuji ini dan sudah diproses oleh Komite Pemberantasan Korupsi (KPK).

Belum lagi maraknya tindak kriminal dengan latar belakang motiv dan modus. Tindak kekerasan yang akhir-akhir ini sering terjadi hampir di seluruh tempat atau daerah. Tidak sedikit diantara saudara kita yang begitu tega melakukan penyerangan, anarkis, bahkan membunuh. Padahal, kita semua mengetahui bahwa hal yang paling penting dalam kehidupan bermasyarakat adalah saling menghargai dan menghormati, tolong menolong, serta tenggang rasa. Apalagi hidup di sebuah pelosok kota atau pedalaman dan bahkan di kota sekalipun yang terdiri dari berbagai macam adat istiadat, budaya, ras, dan agama yang berbeda-beda sebagaimana di tanah air Indonesia ini. Sudah tentu semua ini dibutuhkan sikap dan sifat toleransi antara yang satu dengan yang lainnya. Apabila terjadi kesalahan fahaman, hendaknya dapat di selesaikan atau diatasi secara kekeluargaan melalui musyawarah (Tabayyun). Namun, bila diantara perselisihan tidak menemukan titik temu yang terbaik, dapat menempuh jalur hukum yg tersedia. 

Sungguh hal ini semestinya dilakukan oleh orang-orang terdidik, bukan malah main hakim sendiri.
Keadaan yang memprihatinkan sebagaimana tersebut diperparah lagi dengan terjadinya perilaku sebagian remaja kita yg sama sekali tidak mencerminkan remaja terdidik. Misalnya tawuran antar remaja atau pelajar, tersangkut jaringan narkoba baik sebagai pengedar maupun pengguna, atau melakukan tindak asusila. Mengenai tindak asusila ini, betapa sungguh amat menyedihkan dan mengerikan mendengar kabar berita bahwa beberapa diantara sebagian remaja atau pelajar tertangkap karena melakukan adegan intim layaknya pasutri, merekamnya, lantas mengedarkannya melalui internet. Sungguh kita semua prihatin mendapati kenyataan semacam ini. 

Dimanakah rasa malu itu tertanam tersimpan? dimanakah moralitas itu dibuang? dan dimanakah nilai-nilai pendidikan yg selama ini diajarkan?
Tindak asusila yg dilakukan oleh sebagian remaja sebagaimana tersebut semakin menambah rentetan panjang angka aborsi. Beberapa hasil penelitian mengungkapkan hal ini. Salah satunya pernah disiarkan oleh antaranews.com, ternyata jumlah kasus pengguguran kandungan di Indonesia setiap tahunnya mencapai 2,3 juta, dan ini yg semestinya membuat kita terhenyak dan prihatin 30 persen di antaranya dilakukan oleh kalangan remaja atau pelajar.

Kenyataan sebagaimana tersebut di atas tentu saja menambah beban keprihatinan bagi kita semua. Oleh karena itu, upaya perbaikan harus segera di tindak lanjuti dan dilakukan. Salah satu upaya yg bisa dilakukan adalah penanaman mental dan sikap melalui formulasi pendidikan karakter. Upaya ini selain menjaga bagian dari proses pembentukan akhlaq anak negeri, juga diharapkan mampu menjadi pondasi utama dalam menyukseskan Indonesia secara umum dan pendidikan khususnya dimasa akan datang.

Pendidikan karakter sesungguhnya telah termaktub sebagaimana diamanahkan dlm UU no 20 th 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yg berbunyi: " Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yg bermartabat dlm rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertaqwa kpd Tuhan yg maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan manjdi warga negara yg demokratis serta bertanggung jawab ".

Demikianlah diantara karakter yg semestinya dibangun dalam pendidikan kita. Pada dasarnya pembentukan semua karakter tersebut dimulai dari fitrah sebagai anugerah tuhan, yang kemudian menjelma membentuk jati diri dan perilaku. Dalam rangka membangun karakter baik dalam diri peserta didik, lembaga pendidikan atau setiap sekolah semestinya menerapkan semacam " budaya sekolah " dalam rangka membiasakan karakter yang akan dibentuk. Budaya sekolah dalam pembentukan karakter ini harus terus menerus dibangun dan dilakukan oleh semua pihak yang terlibat dalam proses pendidikan di sekolah. Lebih utamanya lagi, dalam hal ini adalah para pendidik hendaknya dapat menjadi uswah teladan dalam mengembangkan karakter yang dibangun dalam lembaga pendidikan, sehingga upaya dan cita-cita yang diharapkan tercapai dengan maksimal.

Jamber 
sebuah refleksi oleh: Ach. Barocxy 
Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Jember 01/09/2016 (Arul/Muhri)*

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment