DAULAT TANI INDONESIA

JATIMAKTUAL-ESAI,-Hari ini hari petani Nasional namun tidak seperti hari raya Agama yang memberi kebahagiaan bagi ummatnya.Tidak ada yang istimewa pada peringatan hari tani, karena bertani dianggap tidak menarik,terbelakang dan kotor, bahkan setiap orang tua tidak ingin anaknya seperti dirinya, profesi bertani dianggap tidak menarik karena penuh dengan ketidak pastian,cuaca yang labil, pupuk mahal dan jarang serta mahalnya cost produksi yang tidak sebanding dengan hasil panen yang diharapkan.

Indonesia sebagai negara Agraris, memiliki potensi besar sebagai kontributor pangan dunia, alih-alih kontributor, pejabatnya rajin Impor, cara pandang berokrasi penyelesaikan masalah pangan dengan cara impor. Hal ini tentu semakin memperburuk nasib petani, seharusnya Menteri Pertanian adalah orang yang betul-betul hebat dengan jabatan prestisius, namun sepertinya jabatan ini tidak bergengsi karena miskin citra, padahal pertanian menjadi soko guru kehidupan yang cukup vital, amat disayangkan sektor agraris belum mendapat perhatian lebih, publik masih mengikuti geliat atmosfer politik.

Sukses Orde Baru, dengan swasembada pangan melalui gerakan-gerakan tani seperti "Klompen Capir"dan gerakan lainnya, membuat petani merasa dihargai dan cinta terhadap profesinya. Sebaliknya saat ini Negara belum hadir sepenuhnya pada realitas pertanian, petani masih dibiarkan mengadu nasibnya sendiri, uluran tangan pemerintah masih setengah hati, petani diperhatikan ketika momentum pileg, pilpres dan Pilkada dengan visi dan misi yang menyentuh hati Para Petani. Janji hanya sekedar Janji, Petani tetaplah petani yang mengadu nasibnya sendiri, tapi urat dan keringatnya untuk memberi makan seluruh anak negeri.

Iklim politik negeri masih daulat citra, siapa mendapatkan apa, bukan siapa berbuat apa. Buktinya Publik hanya dibuat Nonton Si Jessica, Ahoh yang suka Marah, OTT KPK, atau Program Tausiyah Keagamaan, dan program Lawakan, jarang sekali Pertanian menjadi lokus program siar,yang ada hanyalah program kenaikan Gula, daging dan Cabe. Urusan perut sepertinya tidak begitu penting,lebih penting urusan Pencitraanya Pemerintah dari pada Urusan Rakyat yang sesungguhnya yaitu sektor pertanian.

Daulat Tani harus ditegakkan,tidak usah porosoalan Maritim,Poros pertanian lebih krusial dari pada hanya mengangkat citra dan pembangunan pulau yang abstrak,lebih baik fokus ngurus pertanian desa dan Petani harus menjadi Garda terdepan pembangunan, sudah cukup dan kenyang Rakyat menonton para penguasa yang prestasinya hanya citraan media. Saatnya Petani dihargai dan ditolong nasibnya, tidak penting baginya dibuatkan Rekor Muri atau Hari Nasional Patani, mereka butuh uluran semua elemen bangsa bersatu dan berpadu ikut menggeliatkan sektor pertanian, sudah saatnya Politisi bicara padi bukan koalisi dan pecah kongsi, Pemerintah jangan hanya berteori tapi aksi.

Wahai para petani teruslah berbuat demi negeri, engkau semua pahlawan kami, dari mana dan seperti apa jadinya anak negeri ini jika Padi tidak engkau tanam lagi, kami hanya pandai berteori, engkaulah Harapan hidup Bangsa ini.

Refleksi Hari Tani
oleh Dasuki Aufklarung
Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Jember,
Menggu 24/09/2016.(Arul)**

Respon Pembaca.

1 comments:

Unknown said...

Mantap!!!

Post a Comment