DEMAM MUKIDI

JATIMAKTUAL, ESAI,- Beberapa minggu ini,masyarakat tanpa melihat kelas terobsesi dengan tokoh fiktif Mukidi yang sangat jeneka menghibur dunia maya. Mukidi hadir ditengah hiruk pikuk Tax Amnesty Pajak, Kasus sianida Mirna, Ancaman kenaikan Rokok dan segelintir persoalan-persoalan sosial lainnya. Mukidi bagai obat walau tidak disebut bagian dari opium sosial yang tanpa sengaja atau bahkan disengaja dilempar keruang publik sosial yang sedang penat, stres, dan mabuk menghadapi  berbagai fenomena sosial.

kabarnya tokoh Mukidi hasil rekaan Soetantyo Moehlas tokoh 90-an yang rajin mengirim cerita-cerita lucu ke Radio. Booming Mukidi bukan karena faktor Jenakanya,namun ruang media sosial sebagai medium informasi sangat menghendaki tokoh-tokoh jenaka dari pada tokoh politik dan artis yang selalu haus citra dan pesona.

Sepertinya publik sudah mulai bosan dengan orang-orang yang pandai bersilat kata serta ucapan-ucapannya yang memukau dan para deretan artis dengan talenta sensasional dan kontroversinya.

Mukidi adalah sosok yang bisa dijadikan alat ukur publik tentang selera humor dan protes sosial terhadap kehidupan, bahkan Mukidi menginspirasi dunia akademis yang ditarik pada model pembelajaran kelas, bahkan ada Mukidi syariah. Selera humor masyarakat sebenarnya cukup banyak yang inspiratif, namun kadang publik latah dengan fenomena-fenomena semacam ini, pengetahuan jenaka, dan realitas Mukidi terhampar luas di Desa, tetapi ironisnya sedikit orang yang peduli dengan filsafat pengetahuan orang-orang Desa. Publik terlalu sibuk dan fokus pada gejala-gejala kekinian dan konstalasi Global.konstruksi informasi membuat masyarakat menjadi konsumen informasi pasif. Masyarakat belum biasa menjadi produsen dan distributor informasi, karenanya selalu menjadi bagian yang terpinggirkan oleh keadaan.

Tokoh Mukidi hanya serpihan saja dari fenomena sosial yang ada. Banyak Mukidi-mukidi lain yang terhampar luas diruang publik tinggal bagaimana para paramu cerita,aktivis, praktisi dan akademisi ikut mengeksplorasi dan mewartakan pada khalayak tentang kehidupan orang Indonesia yg sesungguhnya. Publik sudah mulai bosan dangan politik citra, publik butuh tokoh yang apa adanya tanpa rekayasa, disini lah obsesi publik bisa dibuka seluas-luasnya untuk merevitalisasi pengetahuan dan filsafat-filsafat asli orang-orang yang hidup tanpa citra.ideologi pengetahuan perlu mendapat ruang yang luas untuk mengembalikan mutiara hidup sosial,agar masyarakat cukup pede tanpa impor pengetahuan luar dalam menghadapi lika-liku kehidupannya.mudah-mudahan tokoh Mukidi tidak sekedar obsesi sesaat, namun menjadi epistemologi bagi kebijaksanaan-kebijaksaan sosial yang berkelanjutan. 

Jember 
Sebuah Ferleksi oleh Dasuki Aufklarunk 
Dosen Fajultas Tarbiyah IAIN 
Jember ,30/08/2016. (Arul/Muhri)*

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment