Fenomenologi Wahyu.

Sumber Foto Ilustrasi. www.mizanonline.ir.
JATIMAKTUAL, ESAI,- kita mati jika tidak kita ciptakan tuhan, kita mati jika tidak bunuh tuhan, pemerintah batu cadas yang kebingungan, dalam tradisi agama samawi, khususnya dalam rangkaian tradisi semit_abrahamik,  bahwa wahyu memilik peran mediasi yang sangat urgen, karena dalam tersurat melampirkan pesan_pesan ilahi yang di terima oleh seorang nabi dan rasul, yang kemudian di sampaikan pada umatnya, karena tiada kenabian tanpa warta keilahian (adonis 37).

dalam tradisi islam bahwa yang menerima wahyu pertama dan telahir adalah nabi muhammad yang berupa kitab suci atau yang lebih dikenal "alquran", alquran menurut pandangan para ulama salaf banwa ia memiliki keindah bahasa (fashah) yang luar biasa, yang di terima tanpa di pertanyakan (taken for granted). 

dan alquran merupakan sebagai pelengkap atau penyempurna dari risalah_risalah sebelumnya, dalam pandangan adonis bahwa alquran datang ke orang arab sebagai keajaiban dalam segi filologi dan tulisan, dan di situlah alquran di katakan sebagai revolosioner dan pembaharuan bahwa alquran memuat risalah untuk membangkit gairah kelas prolitar untuk bisa melakukan perlawanan terhadap borjuis dll.

alquran juga dikatakan sebagai cakrawala bagi umat islam yang menyajikan model (gaya) dan genre penulisan baru yang tidak sama dengan penulisan risalah sebelumnya yang tidak terdapat dalam tradisi literatur bangsa arab.

tapi yang menjadi problem dalam medornitas saat ini, banyak yang para ilmuan yang mengatakan bahwa alquran itu adalah sajak tuhan, sedangkan kalau mengaca pada tradisi arab alquran itu tidak pernah dikatakan puisa maupun prosa sebab dari beberapa sisi alquran mengandung isi yang tampak gabungan misterius antara puisi dan prosa, yang memiliki ritme sistematis. 

sedangkan puisi dan prosa tendensi kepada abjac yang harus memiliki kesamaan antara ritme satu dan dua.

wahyu saat pertama kali di terima oleh nabi muhammaad sebagai the first mesage, bahwa nabi muhammad secara ontologi memiliki peran penting dalam penafsiran (interpretasi) mengenai keilahian, yang harus di sampaikan kepada hambanya. 
untuk membuktikan keilahiannya secara riil, namun saat 23 kemudian, ketika nabi muhammad wafat, yang mana pada waktu islam menanjap di kota mekah dan madina dari hasil usaha dan perjuangan nabi muhammad, maka perkembanglah tafsir dalam meberikan interpretasi terhadap wahyu, pada fase tersebut wahyu tak lagi menjadi the first mesage tapi sudah transisi tehadap the second mesage, bahwa kitab suci harus di tangkap ( pahami) dan di ungkapkan (implementasikan) dalam bentuk konkret.

tapi ketika di era kodefikasi di mana pada waktu para sarjana juga punya perhatian terhadap alquran yang mana di era ini merupakan era merentang sepanjang tiga abad pertama tahun hijriyah ini amat menentukan bagaimana wahyu di artikan hingga hari ini, adonis menyayangkan sebab teks wahyu di era ini di artikan sebagai teks hukum bukan teks satsra. alquran hanya di mapankan untuk di jadikan prosedural (aturan) represif.

ada sedikit ungkapan mengenai semua hal ini yang di ungkapkan oleh adonis.

"kita menyebutb alquran saat ini bukan sekedar buka belaka, melainkan juga sebagai legislator yang melahirkan dan meletakan dasar_dasar hukum alquran yang di jadikan sebagai legislator sebetulnya bersifat politis. karenanya, dalam cara pembacaan yang umum di islam, sebagai sebuah teks alquran utamanya bukanlah suatu kesenian, tetapi ia merupakan moral. ingat.....ia bukan buku atau novel yang mengalirkan rasa ke indahan, tetapi buku yang mengelontorkan tuntutan untuk tunduk dalam hukum tuhan.

bahwa kata adonis ketika wahyu pertama kali di turunkan tidak ada lain hanya sebagai ide_ide cemerlang untuk mendobrak tradisi arab pra islam. namun dalam perkembangannya, wahyu hanya menjadi pengetahuan agama yang satu, yang beralih menjadi "cahaya ilahi" yang bersifat total, dari cahaya teks yang beruapa wahyu (alquran). teks wahyu saat ini tidak lagi di anggap oleh masyarakat yang berindetitas islam sebagai suatu sarana yang datang dari periode sejarah tertentu, melaikan hanya sebagai fondasi dasar keberadaan (eksistensi) manusia, ini merupakan watak mendasarnya orang islam secara eksitensial. 

sehingga makna historis wahyu menjadi tak relevan dengan konteks kekinian, wahyu yang di artikan sebagai selubung metafisik untuk menoropong segala sesuatu secara mutlak, sehingga wahyu tak lagi menjadi sebuah tradisi dari episode sejarah yang silam.

melainkan juga sudah menjadi sebuah kehadiran absolut. konsokuensinya, sejarah tidak lagi di pandang sebagai gerak peralihan dari yang baik (assabit) ke yang lebih baik (almutahawwil), atau yang dari cacar ke yang sempurna. sehingga di era kenabian dianggap sebagai yang pripurna, terbaik sekaligus yang melandasi segalanya (ta'sis).

Oleh. Kholili Ansory
Mahasiswa UINSA
Jurusan Tafsir Hadist.

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment