Dilema Ma' had Kampus, Inilah pernyataan Warek III

JATIMAKTUAL, JEMBER,- Kampus Institut Agama Islam Negeri Jember untuk tahun ini mewajibkan mahasiswa baru untuk tinggal di Ma'had Al Jamiah selama 2 semester. Rencana ini dilakukan agar seluruh mahasiswa baru memiliki bekal ilmu keislaman yang cukup di kampus. Namun, tujuan itu tidak berjalan mulus. Ma' had yang baru saja selesai dibangun tidak cukup menampung semua mahasiswa baru tahun 2016.

Sehingga, Diwajibkannya menempati Ma'had bagi seluruh mahasiswa baru IAIN Jember tahun 2016 masih menuai pro-kontra. Harapan dari Rektor IAIN Jember tidak sesuai dengan kenyataaan yang ada. 

Bangunan tiga lantai di sisi belakang kampus IAIN Jember itu menjadi dilema bagi seluruh mahasiswa baru. Dalam menyikapi hal itu, Dewan Eksekutif Mahasiswa IAIN Jember meminta klarifikasi kepada Warek III IAIN Jember.

Saat ditemui di ruangannya, Pak Karno menyatakan bahwa Ma' had IAIN itu hanya bisa menampung 600 Mahasiswa dan mahasiswi baru. sehingga sisa dari mahasiswa keseluruhan yang berjumlah 1200 mahasiswa harus ditempatkan di pondok di luar kampus yang itu juga dijadikan mitra kampus.

"Wajib mondok itu iyya, cuma gak harus mondok di satu tempat. Semuanya bisa memilih pondok. Disesuaikan dengan kantongnya masing-masing. Jadi kan jumlah mahasiswa itu kan 1800. Wajib di ma'had kampus itu 600, 475 itu ada di pondok mitra kampus, nah, sisanya itu terserah dimana aja. Karena belum banyak pondok yang bisa kita jadikan mitra. Apalagi kalau pondok mitra yang jauh itu terkendala transportasi apa segala macem. Wajib iyya, cuma gak harus di satu tempat." Ungkap Sukarno Wakil Rektor III Bidang kemahasiswaan IAIN Jember kepada pengurus DEMA I.

Diketahui bahwa kampus IAIN Jember menjalin kerjasama dengan beberapa pesantren di sekitar kampus dan dijadikan sebagai mitra kampus. Namun hal itu juga masih belum bisa menampung seluruh mahasiswa baru. Alasannya, masih banyak pesantren yang belum bisa dijadikan mitra dan jarak dari kampus dari beberapa pesantren mitra itu cukup jauh, sehingga transportasi mahasiswa juga menjadi kendala.

Dengan alasan itu akhirnya pak karno akhirnya mewajibkan mondok cuma tidak harus mondok di satu tempat. Jikalau tidak menemukan pondok bisa mencari kos-kosan yang berbasis pesantren. (azz)

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment