AKTIVIS PRESTATIF DAN KONTRIBUTIF

JATIMAKTUAL, OPINI,- saya sepakat dengan pendapat bahwa lahirnya suatu peradaban pasti didahului dengan lahirnya tradisi keilmuan yang kuat.

Kecintaan akan pengorbanan tidak mungkin muncul dalam diri seseorang atau masyarakat, jika tidak didahului dengan tumbuhnya tradisi ilmu dan kecintaan pada ilmu yang benar di masyarakat, tidak ada satu peradaban yang bangkit tanpa didahului kebangkitan tradisi keilmuan. (dengan ini keyakinan saya menguat kenapa para senior dan cak prof. Dasuki begitu kuat memotivasi kita untuk selalu menulis dan berkarya).

Melihat fakta hari ini peran aktivis ke depan tidak lagi hanya berkutat dalam masalah advokasi masyarakat saja, atau tidak hanya demonstrasi atau istilah arab mudhoharah (tidak termasuk demonstration order) dengan mengabaikan studinya. Tidak jarang kita melihat aktivis mahasiswa yang mempunyai kegiatan padat and full namun prestasinya secara akademik menurun. 

Di sisi lain juga banyak mahasiswa yang memiliki prestasi akademik yang tinggi namun kecerdasan dan kepintaran yang mereka miliki hanya digunakan untuk dirinya sendiri, padahal potensi manfaat di masyarakat akan lebih besar jika mereka menjadi mahasiswa yang cerdas sekaligus memiliki kepedulian terhadap masyarakat.

Selain itu lunturnya beberapa idealisme aktivis mahasiswa selalu berbenturan dengan hal akademis, dengan prestasi yang pas-pasan, kondisi mereka setelah lulus berbeda jauh dengan apa yang mereka suarakan saat masih menjadi mahasiswa. Desakan ekonomi yang menghimpit serta tuntutan dari lingkungannya menjadikan mereka harus mengorbankan idealismenya untuk mempertahankan hidup.

Cerita lain dari hilangnya semangat aktivis kampus pasca mereka lulus adalah karena ketiadaan perencanaan masa depan yang jelas dan terukur, tak jarang pula yang dipakai pikir yang mereka gunakan adalah, menjadi aktivis, aktif di organisasi mahasiswa, kuliah, lulus, kerja, menikah, punya anak dan hidup bahagia. Pola pikir semacam ini memang tidak salah namun seolah mematikan potensi-potensi luar biasa mantan aktivis kampus yang sudah mereka punya.

Pembentukan aktivis prestatif kontributif merupakan salah satu peran mahasiswa dalam membangun bangsa ke depan, karena kebutuhan dalam pembangunan peradaban dimulai dengan penguasaan ilmu pengetahuan. Kampus berperan dalam mempersiapkan itu semua, tolak ukur keberhasilan aktivis kampus bukan hanya dalam jarak jangka pendek saja, tapi harus memikirkan jangka panjangnya. Tantangan yang ada menuntut mereka menjadi mahasiswa yang prestatif dengan penguasaan ilmu pengetahuan yang tinggi, hard Skill dan soft Skill yang matang.

Pembentukan aktivis prestatif dapat dilakukan di semua organisasi kemahasiswan (PMII dan IKMPB juga andil besar sebagai organisasi ekstra kampus), dalam hal ini aktifitas di organisasi yang bergerak dalam bidang keilmuan memiliki peran sentral, karena dalam organisasi ini mahasiswa dibentuk untuk berpikir interdisipliner yakni tidak hanya tersekat dalam satu bidang keilmuan saja.

Perumusan masalah secara interdisipliner merupakan suatu hal yang mutlak karena dalam realitas lapangan, masalah yang terjadi di masyarakat tidak bisa hanya dipandang dari satu bidang keilmuan saja. Aktivis yang bergerak di bidang ini akan lebih bisa memandang suatu permasalahan dengan kompehensif, karena dalam komunitas organisasinya sudah dibiasakan berpikir kritis interdisipliner. Selain itu sebagai karakter organisasi mahasiswa, organisasi keilmuan juga memiliki peran dalam menanamkan jiwa kontributif pada anggotanya.

Jember, 
Mohammad Nur Afandi, 
Dosen Tetap IAIN jember 09/08/2016. (Arul)

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment