Pres Rilist: oleh Arifin.


Anak angkat saya Muhammad Y dilarang melaksanakan Shalat Isya oleh oknum penyidik Polres Probolinggo Briptu OKP pada saat  dilakukan pemeriksaan di Polda Jatim pada tanggal 10 Juni 2016 dengan tuduhan turut serta melakukan tindak pidana pembunuhan terhadap Ismail Hiidayah warga Situbondo .

Karena memang tidak terlibat pembunuhan maka tidak sampai 17 jam dilepaskan namun disekap terlebih dahulu di Hotel POP! Surabaya .  Muhammad Y sejak ditangkap di Hotel Quest Surabaya sudah mengalami penyiksaan secara sadis dilakukan oleh oknum Jatanras Polda Jatim dan oknum peyidik Polres Probolinggo dan dirampas harta bendanya berupa Mobil, Tablet, HP, Jam Tangan dan uang Rp30 jt. Uang Rp.10 jt uang kontan , Rp.20 jt diambil di ATM BCA dan Mandiri masing-masing Rp.10 jt dengan ancaman akan ditembak bila tidak dipenuhi permintaan onkum penyidik Polres Probolinggo tersebut . Barang-barang dan uang yang dirampas sebagian ada yang dibuatkan berita acara penerimaan, sebagian tidak dibuatkan berita acara penerimaan barang  .

Barang-barang dan uang yang tidak dibuatkan berita acara penerimaan barang yaitu uang Ro.10 juta , Tablet Samsung , Jam Tangan merk Alexander Christie , Kamera Digital . Hebatnya barang-barang yang tidak dibuatkan berita acara penerimaan barang adalah barang baru dan berharga mahal , barang-barang baru tersebut adalah Tablet Samsung dan Jam Tangan merk Alexander Christie (pada saat pembeliannya saya mengetahui).

Beberapa waktu yang lalu barang-barang yang dibuatkan berita acara berupa Mobil dan lain-lain beserta uang Rp.20 juta dikembalikan diantar langsung oleh oknum-oknum penyidik Polres Probolinggo ke Yogyakarta . Namun mereka tetap tidak mengaku menerima Rp.20 juta dari hasil pemerasan terhadap Muhammad Y . Oknum penyidik mengaku bahwa uang Rp.20 juta yang diserahkan kepada Muhammad Y tersebut adalah uang milik pribadi oknum penyidik karena merasa tidak nyaman dengan pemberitaan kasus tersebut diatas . 

Pengakuan bahwa uang Rp.20 jt yang diserahkan kepada Muhammad Y adalah uang pribadi oknum penyidik Polres Probolinggo adalah pengakuan yang tidak masuk akal .

Oknum Jatanras Polda Jatim dan oknum penyidik Polres Probolinggo juga tidak mengaku melakukan penyiksaan sadis terhadap Muhammad Y , padahal korban Muhammad Y merasakan kesakitan saat disiksa dengan brutal dan meninggalkan bekas luka sampai dengan saat ini . Dengan tidak diakuinya penyiksaan oleh oknum-oknum tersebut berarti diruang Jatanras ada mahluk lain yang melakukan penyiksaan . Dan mereka juga tidak mengakui merampas sebagian barang-barang milik Muhammad Y berarti ada mahluk lain juga yang melakukannya .

Sebagian barang-barang berharga dan sejumlah uang  tersebut telah hilang di ruang Jatanras Polda Jatim yang seharusnya steril dari tindak pidana pencurian masih bisa direlakan, demikian dengan penyiksaan sadis masih bisa direlakan juga, namun pelarangan menjalankan Shalat sangatlah tidak bisa direlakan , dan pelarangan Shalat tersebut tidak bisa ditolerir di Negara RI yang menganut Pancasila dimana menjalankan ibadah dijamin oleh Undang-Undang .

Dengan demikian bahwa kejadian pelarangan Shalat oleh oknum penyidik Polres Probolinggo Briptu OKP  merupakan penistaan terhadap Agama Islam yang sangat  menyinggung perasaan  Umat Islam di Indonesia , dan  sungguh sangat melecehkan Hak Asasi Manusia (HAM), Pancasila dan UUD’45 .

Rilist ini dikirim oleh Arifin.

Respon Pembaca.

0 comments:

Post a Comment