NALAR PALSU MUlAI MENGGEROGOTI BANGSA INDONESIA

JATIM AKTUAL, ESAI,- PALSU.lima suku kata itulah yang sering terdengar ketika kita sedang menonton TV, membaca media cetak, dan media sosial. Masyarakat saat ini sedang dibanjiri oleh hantu-hantu kepalsuan yang cukup akut dan menakutkan. Ijazah palsu pun turut pula dipermainkan para pembajak kekuasaan dan pekerjaan, seperti kasus-kasus kemaren dan hari ini yang mencuwak dimedia-media, beras palsu dimainkan oleh pembajak pangan, dan vaksin palsu dibajak para mavia herbal, dan terakhir kuburan palsu dibajak mavia Makam.

Pembajakan dan pemalsuan sudah akrab dengan masyarakat kita. pemalsuan-pemalsuan yang terjadi sepertinya karena faktor tekanan hidup bangsa Indonesia akibat alinasi dari kondisi sosialnya, mereka hanya bisa mamalsu karena alat-alat produksi hidupnya telah dirampas oleh regulasi dan investasi yang tidak berpihak kepadanya hingga tidak ada lagi kreasi berfikir selain pekerjaan dan sikap hidup memalsu.

Tekanan ekonomi yang cukup tinggi telah melahirkan masyarakat konsumtif, pragmatis, dan palsu, kontra masyarakat Asli yang menguasai aset-aset produksi hidupnya memburu destenasi dan fantasi.

Pemalsuan-pemalsuan akan terjadi seterusnya sejalan lemahnya proteksi kebijakan dan diumbarnya syahwat kerakusan penguasa yang tidak pernah memikirkan kondisi masadepan bangsa, miskinnya keteladan serta pamer kehidupan para artis ibu kota telah membius polafikir dan sikap negatif bangsa kita sehingga gaya hodup dan prilakunya banyak menyimpang dari norma-norma dan adatistiadat kebudayaan bangsa.

setiap orang tentu ingin hidupnya serba berkecukupan, namun cara mendapatkannya sering dengan cara-cara kepalsuan. Itu lah risidu persaingan yang dipermainkan para bandit-bamdit pasar (kapitalis). Kepalsuan tidak lahir secara kebetulan, tapi rentetan panjang dari penghisapan yang dijalankan oleh mekanisme pasar yang  didukung oleh produksi pengetahuan kepentingan serta diamini oleh pesohor-pesohor kekuasaan yang mempunyai kekuwatan untuk mengintervemsi dan mengngatur kebijakan serta kekuasaan.

Kondisi persoalan ini tidak akan pernah menemukan perubahan jika generasi penerus bangsa ini tidak berbenah diri melalui peningkatan pendidikan, kemampuan, dan penguatan moral berbasis kultur budaya lokal. Selain itu pemerintah harus bersunggung-sunggu dalam melakukan perbaikan baik dari sistem ketatanegaraan dan sisten pelaksanaan penegal hukum yang tegas dan berkeadilan. Sebuwah refleksi Oleh Dasuki Aufklarung di Bondowoso 27/7/2016.

Respon Pembaca.