Maqasidus Syariah Sebagai Nilai Perubahan Sosial

JATIMAKTUAL, ESAI,- Secara fundamental  agama itu dapat dipahami dari pemahaman dan tingkah laku pemeluknya (manusia), perbedaan adalah hal yang wajar baik dari segi aqidah maupun secara ekonomis karena hal itu merupakan tatanan  kehidupan manusia, karena sejauh ini kita sepakat bahwa manusia adalah makhluk yang tidak pernah pensium dalam perfikir, sikap atau tingkah laku dan cara memahami itulah yang tidak pernah bebas dari nilai, artinya setiap tindakan manusia akan ada nilai adan emanasinya.

Tujuan pembahasan kali ini saya ingin mencoba memberikan langkah teori kepraksis mengenai nilai maqasidus syariah dalam perubahan tatanan sosial dalam sikap beragama yang semakin hari mulai terkikis sisi nilai_nilainya.

Langkah teori ke praksis ini nantinya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari_hari.

Tata nilai yang ada dalam maqasid as_syariah diharapkan menjadi sebagai landasan hidup baik dalam beragama dan bersosial antar manusia.
tidak ada lain yang diharapkan hanya kesejahteraan, kedamaian, dan keamanan dalam guna membentuk situasi yang lebih baik walaupun pada dasarnya seringkali gagal, namun sebuah usaha adalah modal utama.

Sejarah islam penuh dengan perang baik perang saudara, perebutan kekuasaan diantara satu kelompok suku yang jahat serta pemberani dengan kelompok lain, dimensi politik islam menjemukan kita sebagai suatu petunjuk yang sangat membingungkan, usaha untuk memegang suatu pemerintahan bersama seperti yang dicanangkan dalam ideologi islam secara menakjubkan telah gagal. ideologi yang cukup kuat untuk menolak konflik_konflik geografis serta etnis ternyata telah membuktikan sebagai gambaran yang tragis, agar bisa berfikir serta bertindak selaras mengeni masalah_masalah internasional, dan harapan untuk sukses dimasa depan.

Secara acap kalai perkembangan dan perubahan sosial membawa akibat pergeseran nilai_nilai kehidupan umat beragama yang paling fundamental. 

Orientasi kehidupan masyarakat yang materialis dalam makna pemberian tekanan kepada aspek_aspek material sehingga menumbuhkan tendensi pendekatan sekularistis dalam kehidupan beragama, karena tantangan bagi umat islam adalah kemiskin, keterbelakang dan intimidasi sebagai agama yang mengajukan claim pengaturan kehidupan manusia melalui pranata hukum dan moralitas agama dengan kerangka_kerangka yang pasti, maka tak heran ketika kemudian muncul bermacam responsi di kalangan kaum muslimin sebagai upaya agimitasi tantangan aspirasi_aspirasi sekularistis.

Sehingga perlu bagi umat beragama untuk bersikap kreatif dan kritis untuk mengkaji dan menggali esensi islam sembari mengamati secara realistis perubahan demi perubahan untuk menemukan krangka dasar dan sistem berfikir sebagai landasan bertindak (pradigma baru). dan sudah barang tentu setiap hasik pencapaian itu hanya merupakan stasiun kebenaran sementara, yang kemudian akan dilewati pula oleh hasil pencapaian bagi umat islam dalam nilai yang berada dalam maqasid as_syariah. (Kholil)

Respon Pembaca.