Surat Terbuka untuk Bapak Imam Hanafi

JATIMAKTUAL, SURAT,- Salam hormat untuk bapak dosen, Tanpa mengurangi hormat saya pada bapak tercinta, saya ingin menghaturkan doa semoga bapak tetap mendapatkan hidayah dari Allah SWT. Pun juga semoga bapak tetap sehat dan bisa menjalankan aktfitas Sehari-hari dengan tidak keluar dari alur sebagai manusia yang tentunya memegang nila-nilai kebenaran. Tanpa harus menggurui, yang namanya kebenaran itu tujuan hidup manusia. 

Saya juga sebagai manusia tentu harus memihak pada kebenaran dari manapun itu datangnya. Pepatah madura dinyatakan, maskeh kalowar deri buri’nah ajem pagghun kala’ mon teppa’ ka tellor. Begitu juga dengan kebenaran yang datangnya tidak harus dari wahyu semata. Disamping saya pecinta kebenaran, saya sebagai mahasiswa memiliki hak untuk menyatakan sesuatu di atas mimbar mahasiswa. Ketika hak ini tidak digunakan sebagaimana mestinya maka saya dianggap menyia-nyiakan hak. Terlebih ketika ada hal yang perlu disampaikan. Perlu juga dipaparkan,  selama saya aktif studi di kampus juga memiliki kewajiban yang tidak lain mematuhi kode etik mahasiswa. Keduanya harus seimbang, hal ini sudah lumrah diketahui. 

Berbicara tentang kebenaran dan sesuatu yang harus disampaikan melalui tulisan maupun lisan, saya ingin menyampaikan beberapa hal terkait kritik dan saran saya sebagai manusia. Hal itu tidak lain seperti tertuang di bawah ini:

Terkait bapak sebagai dosen
Berbicara tentang dosen yang statusnya sama dengan pengajar, pendidik dan lain sebagainya. Ada hal yang ingin saya sampaikan yaitu terkait keteladanan yang harus dijadikan pola tingkah laku bapak sebagai dosen, baik dalam berbicara dan menyampaikan gagasan, dan berperilaku. 

Karena selama ini, banyak dari mahasiswa yang mungkin salah paham tentang bapak. Dan kalau memang salah paham, maka perilaku bapak bisa diperbaiki kalau salah.  Saya kira tidak usah mengajarkan bapak untuk hal ini karena bapak lebih tahu.
 
Terkait keterbukaan untuk menerima kritik dan saran dari orang lain. 

Bapak dalam hal ini sebagai orang yang berilmu tentunya memiliki sikapyang objektif, toleran terhadap pendapat yang berbeda, tidak merasa memiliki kebenaran mutlak- sehingga terjebak pada pengakuan seolah-olah dirinya Tuhan kedua. Sikap orang yang berilmu dan berwawasan luas setidaknya yang saya pahami seperti itu. 

Lagi-lagi saya tidak perlu mengajari bapak.
Dua saran yang saya tulis di atas bukan bertujuan untuk menjatuhkan, tapi sebagai pengejewantahan pesan surat al-ashr yang berbuyi : “Dan saling berwasiatlah tentang kebenaran...” demi dinamika kemajuan yang akan dituju maka saling berpesan tentang kebenaran merupakan kebutuhan penting agar tidak jauh panggang dari api.
Akhirnya, semoga bapak tetap menerima semua kritik dan saran dengan lapang dada. Tidak semua awan hitam dan guntur yang menggelegar berbahaya bagi bumi. Awan hitam dengan suaranya yang memekakkan tanda akan turun hujan yang diperuntukkan terhadap bumi.  

Latif Azzam
Mahasiswa Independen

Respon Pembaca.