PUDARNYA SAKRALITAS PETUAH ORANG TUA BAGI REMAJA

Ditulis oleh. Ulfatun Hasanah 
Mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa Arab STAIN Pamekasan

JATIMAKTUAL, ARTIKEL,- Masa remaja merupakan suatu masa yang indah. Banyak hal yang terjadi pada masa transisi remaja dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Suatu proses masa yang di dalamnya semua anak manusia sedang dan akan mengalami sebuah proses pertumbuh perkembangan yang sangat signifikan. 

Dunia remaja memang unik, sejuta peiristiwa terjadi dan sering diciptakan dengan ide-ide cemerlang dan positif. Namun demikian, tidak sedikit juga hal-hal negatif yang terjadi. Salah satu hal yang menarik dan terjadi dalam dunia remaja adalah trend “pacaran”. 

Kepedulian orang tua kepada anak mereka dalam suatu bentuk nasehat dan arahan, bagi anak mereka sudah dianggap suatu hal yang sangat kuno ketika disesuaikan dengan keadaan globalisasi seperti sekarang ini. Tidak heran jika para orang tua sangat khawatir kepada anak-anak mereka, karena mereka telah melihat zaman sekarang itu sangat jauh berbeda dengan zaman mereka. Banyak dikalangan orang tua yang sangat hati-hati terhadap pergaulan anak-anak mereka, sehingga hal tersebut yang terkadang membuat banyak para remaja yang beranggapan bahwa pandangan orang tua mereka itu kolot, kuper, jumud, kuno, dan lain sebagainya, hanya karena mereka para remaja sering di nasehati dalam hal bergaul antar teman, atau dalam hal yang lebih sering di lakukan remaja sekarang ini adalah “pacaran”. 

Di zaman sekarang ini kekhawatiran para orang tua memang sangat benar dan pantas, ketika melihat situasi kenyataan yang terjadi akhir-akhir ini yang disebabkan dan dilatarbelakangi tidak lain akibat dari “pacaran”. Jika membandingkan dampak positif dan negatif yang akan ditimbulkan oleh “pacaran” sebenarnya lebih memicu akan timbulnya dampak negatif. 

Karena tidak ada yang namanya pacaran itu baik selamanya dan berakhir kebahagiaan. Malah sebaliknya, tidak sedikit yang namanya “pacaran” itu berakhir dengan yang namanya kekerasan bahkan yang lebih parah lagi berakhir dengan yang namanya kematian. 

Seperti halnya kasus yang terjadi baru-baru ini yang menimpa seorang perempuan asal Medan, yang mana kasusnya bermula dari “pacaran” yang berakhir dengan dibunuh secara tragis hanya karena menolak ajakan pacarnya untuk melakukan hubungan intim.  

Di era globalisasi seperti sekarang ini, “pacaran” sudah menjadi suatu hal yang tidak tabu lagi bagi kalangan remaja di dalam roda perjalanan kehidupan mereka. Sehingga, hal tersebut menjadi suatu keharusan yang harus di perhatikan oleh para orang tua. Seperti kita ketahui, bahwa zaman sekarang adalah zaman cyber yang semua hal serba canggih dan Online, semua hal bisa dilakukakn dengan sekejap, duduk santai tanpa harus berkeringat. Namun seiring dengan peradaban itu, banyak hal-hal negatif terjadi dalam bentuk skala besar. Fakta membuktikan, banyak para remaja menggunakan “teknologi informasi” dalam hal yang negative dan sedikit sekali yang menngunakannya dalam hal-hal yang positif, seperti contoh yang sangat sederhana, mereka mengakses video-video yang tak pantas untuk dilihat, menggunakanya untuk sekedar chat, bahkan menggunakannya untuk menipu orang. 

“Pacaran” merupakan suatu istilah yang sangat populer atau bahkan menjadi suatu hal yang dianggap wajib disandang bagi para remaja. Karena mereka menganggap “pacaran” itu merupakan suatu bukti bahwa mereka sudah dewasa, bukan anak mama lagi, dan satu hal lagi yaitu bukan jomblo “single”. Banyak dikalangan remaja tentunya yang sangat merasa terganggu atau merasa tidak PD (percaya diri) ketika dirinya jomblo sedangkan teman-teman mereka sudah mempunyai pacar. 

Ada beberapa hal yang memicu para remaja untuk melakukan yang namanya “pacaran”. Yang mana beberapa hal tersebut adalah: 

Pertama, akibat zaman yang sudah globalisasi seperti sekarang ini. Kedua, mereka berpacaran dengan dalih sebagai bukti bahwa mereka sudah dewasa dan layak untuk berpacaran. Ketiga, yang terakhir ini merupakan hal pemicu yang sangat sering dan berpengaruh bagi para remaja yakni teman sebaya mereka sendiri yang sudah memiliki pacar. 

Tiga hal tersebut merupakan hal yang paling sering terjadi dan sangat berpengaruh bagi para remaja untuk melakukan yang namanya “pacaran”.

Respon Pembaca.