Di Pamekasan, Rokok Ilegal di Tahun 2018-2019 Capai Angka 102 Merek

JATIMAKTUAL.COM, PAMEKASAN- Rokok ilegal di Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur mulai tahun 2018 Sampai April 2019 ini masih banyak beredar di pasaran khususnya di toko-toko eceran.

Kepala Seksi Pengawasan Barang Beredar Disperindag Pamekasan, Nurul Hidayati mengatakan, bahwa peredaran rokok ilegal tersebut hingga mencapai 102 merek.

“Tahun lalu mencapai 95 merek dan Pada tahun 2019 ini sampai bulan April sebanyak 7 merek," tutur Nurul, Senin (22/04/2019).

Ia mengungkapkan, peredaran rokok ilegal tersebut smapai saat ini banyak ditemukan di toko-toko rokok eceran.Seperti di toko rokok eceran yang berada di Pasar Tradisonal 17 Agustus Pamekasan, Pasar Keppo dan di Pasar Pademawu.

“Kalau tahun kemarin itu yang banyak ditemukan rokok ilegal, di daerah Larangan tepatnya di Pasar Kepo sama daerah Pademawau dan di daerah Pasar Tradisional 17 Agustus Pamekasan," ujar Nurul Hidayati.

Sejauh ini Nurul mengaku, pihak Disperindag sudah melakukan banyak upaya bahkan  melakukan pengawasan secara rutin.

“Kalau Disperindag itu memang tupoksinya hanya melakukan pengawasan dan pembinaan. Kalau penindakam itu tugasnya Bea Cukai,"  tegasnya.

Untuk diketahui rokok-rokok ilegal yang beredar di pasaran harganya mencapai 5 ribu sampai 6 ribu rupiah. (Heb/JA)

Khofifah: Banyak Perempuan Hebat Tanpa Suara Tapi Penuh Karya

JATIMAKTUAL.COM, SURABAYA- Peringatan Hari Kartini yang jatuh pada hari ini, Minggu (21/4/2019), menjadi momen refleksi tentang peran dan kekuatan perempuan di Indonesia. 

Bagi Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, nilai-nilai Kartini masa kini terus digeliatkan para perempuan dari seluruh lapisan elemen dalam status sosial ekonomi level apapun. 

Bahkan, menurut gubernur perempuan pertama di Jawa Timur ini, para ibu-ibu yang berjualan sayur di pasar, berjualan gorengan, para pejuang ekonomi keluarga, adalah sosok Kartini riil yang ada di sekitar kita saat ini. 

Mereka yang tak kenal lelah setiap hari berjuang untuk bisa menghidupi keluarga, menjaga agar api di dapur terus mengepul dan menyisihkan penghasilannya guna memberikan pendidikan untuk para anak-anaknya adalah sosok nyata Kartini masa kini.

"Para perempuan, ibu-ibu yang tengah malam berjualan sayur di berjualan gorengan, berjualan ikan di pasar tradisional, yang sehabis subuh mereka sudah kembali ke rumah dengan memperoleh keuntungan dari hasil berdagang, mereka memiliki kontribusi yang sangat besar ketika mereka menyisihkan keuntungan yang sedikit itu untuk biaya pendidikan anak-anaknya, mereka itu lah perempuan hebat tanpa suara yang sebenarnya penuh karya," kata Khofifah mengungkapkan tentang makna Hari Kartini, Minggu (21/4/2019).

Mereka, Khofifah melanjutkan, adalah perempuan-perempuan yang memiliki kontribusi besar dalam pemberdayaan masyarakat bangsa dan negara. 

Para ibu-ibu itu juga adalah pahlawan seperti Kartini yang juga berjuang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang dimulai dari keluarga kecil yang mereka miliki. 

"Terlebih saat ini sudah banyak perempuan yang masuk sektor ekonomi digital. Mereka bisa aktif berjualan namun cukup melalui gadget jadi tidak harus keluar rumah, sehingga fungsi ekonomi dan ketahanan keluarga bisa berjalan bersamaan," katanya. 

Menurut wanita yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU ini, para perempuan Kartini masa kini itu harus menjadi satu kesatuan yang sama-sama berjuang untuk membangun kualitas sumber daya manusia dan ekonomi bangsa. 

Bukan hanya para ibu-ibu dan perempuan yang ada di kawasan perkotaan saja, melainkan juga termasuk mereka para ibu-ibu dan perempuan di daerah pedalaman, di kepulauan terpencil, bahkan yang ada jauh di daerah perbatasan, menurut Khofifah semua harus bergandengan tangan dan terjalin koneksitas dengan sektor-sektor stratagis. 

"Mereka harus berjejaring dengan yang ada di kota, dengan sektor perbankan, sektor legislatif, sektor  eksekutif, semua jejaring itulah yang akan meneguhkan ketahanan, kekuatan masyarakat bangsa dan negara Indonesia," imbuh Khofifah, 

Lebih lanjut, keteladanan sosok Kartini masa kini menurut Khofifah bisa diwujudkan dalam banyak hal. Terutama dengan meneladani sikap keteguhan, ketegaran, dan juga keberanian dari sosok Raden Adjeng Kartini. 

"Selamat Hari Kartini. Kartini hari ini adalah Kartini yang punya keteguhan dan ketegaran menghadapi berbagai dinamika kehidupan dimana pun mereka berada dan dalam status sosial ekonomi selevel apapun. Dan dari level manapun itu, mereka akan tetap memberikan kontribusi terhadap peneguhan masyarakat bangsa dan negara kita serta terus membangun ketahanan masyarakat bangsa dan negara Indonesia," pungkas Khofifah. (rls)

Peringatan Hari Kartini, Ketua Kopri PMII Pamekasan: Kami Memaknai Banyak Pelajaran Unik

JATIMAKTUAL.COM, PAMEKASAN- Hari Kartini diperingati setiap tahun pada 21 April, bertepatan dengan hari lahir Raden Ajeng Kartini. Kartini dianggap sebagai tokoh pergerakan dan emansipasi perempuan Indonesia. Semangat Kartini hingga saat ini masih relevan untuk perjuangan perempuan.

Perjuangan Kartini sejak 140 tahun lalu membawa banyak perubahan untuk perempuan Indonesia. Perempuan masa kini bahkan bisa menjadi apa saja.

Ketua Kopri PC. PMII Pamekasan Aan Nurul Qamariyah, mengatakan bahwa banyak yang harus di renungi mengingat sejarah ibu Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan untuk menjadi motivasi bagi perempuan masa kini.

“Kami memaknai banyak pelajaran unik yang bisa kami petik dari sejarah hari lahir Kartini, bahwasanya pada awal abad 20 Kartini membuat surat untuk Belanda yang berisi bahwa perempuan yang banyak berbicara tentang nilai-nilai tradisi yang cenderung membelenggu perempuan tergantung pada laki-laki, sehingga perempuan cenderung tak berdaya," terangnya.

Menurutnya dari sejarah itu baginya hari Kartini merupakan hari yang sangat istimewa untuk menyuarakan peradaban yang telah lama mengantarkan masyarakat Indonesia kepada kenikmatan khususnya bagi kaum perempuan.

“Karena hari kartini tidak hanya sekedar menikmati sejarah akan tetapi perempuan mempunyai kewajiban untuk mengingat sejarah," tukasnya. (Heb/JA)

Malam Nisfu Sya'ban, Masyarkat Madura Punya Tradisi Luar Biasa

JATIMAKTUAL.COM, PAMEKASAN- Bulan Sya’ban adalah bulan mulia yang terletak sebelum bulan suci Ramadhan. Di antara keistimewaannya, bulan tersebut adalah waktu dinaikkannya amalan.

Malam nisfu Sya’ban (malam 15 Sya’ban) adalah malam mulia menurut sebagian kalangan. Sehingga mereka pun mengkhususkan amalan-amalan tertentu pada bulan tersebut dan adapula tradisi-tradisi untuk menyambutnya.

Sepertihalnya di daerah pulau madura khusunya Kabupaten Pamekasan, untuk menghidupkan malam Nisfu Sya'ban atau pertengahan bulan Sya'ban menjelang masuknya Ramadhan kalender hijriyah yaitu dengan ibadah. 

Pada malam Nisfu Sya'ban, umat Islam khususnya di Desa-desa, masyarakat memenuhi tempat-tempat ibadah seperti masjid dan langgar, guna mendirikan shalat wajib dan shalat sunat berjamaah. 

Malam Nisfu Sya'ban ini menjadi salah satu moment untuk bersilaturrahmi dan bermaaf-maafan.

Pantauan jatimaktual.com usai sholat maghrib berjemaah, para warga setempat membaca Surah Yasiin bersama sebanyak 3 kalai. Setelah itu, warga mulai berhamburan untuk bermaf-mafan dengan sesama yang dilanjutkan makan bareng.

Bermaaf-maaf ini biasanya dimulai sehabis sholat Isya kemudian masyarakat langsung saling meminta maaf dengan orang-orang yang ada disekitarnya.

Yang lebih menarik, aksi maaf-maafan ini tidak berhenti di masjid atau di langgar saja. Akan tetapi dilanjutkan dengan berkunjung ke rumah sanak saudara. Pemandangan ini membuat jalan raya terasa jauh lebih lenggang dibanding hari biasa. Sebaliknya jalanan perkampungan dipadati warga yang hilir mudik saling bermaaf-maafan.

Haidar Anshori salah satu tokoh pemuda setempat mengatakan, bahwa malam Nisfu Sya'ban merupakan salah satu malam yang sangat istimewa. Dimana pada malam itu Allah SWT akan memberikan pengampunan untuk orang–orang yang mau memohon ampunan atas segala dosa-dosanya.

"Setiap manusia tak luput dari dosa maupun kesalahan, Allah SWT selalu memberikan kesempatan maaf bagi siapapun yang memohon kepada-Nya," katanya yang saat ini juga berkontetasi mencalonkan diri sebagai anggota legislatif Daerah Kabupaten Pamekasan.

Dilanjutkannya, malam Nisfu Sya'ban tersebut juga menjadi kesempatan bagi warga untuk saling berkomunikasi mulai dari anak-anak hingga dewasa, sehingga tercipta suasana keakraban serta terjalinnya suasana harmonis yang membuat persatuan dan kesatuan warga semakin kokoh.

"Bukan hanya tentang shalat wajib dan shalat sunat berjamaah saja, namun warga sekaligus juga saling bersilaturrahmi disela-sela kesibukan aktivitasnya masing-masing," pungkasnya. (Heb/Red)

Tiga Bulan Terakhir, Angka Perceraian di Pamekasan Capai 385 Kasus

Ilustrasi
JATIMAKTUAL.COM, PAMEKASAN- Angka perceraian di Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur hingga 3 bulan terakhir di tahun 2019 sudah mencapai angka 385 kasus.

Berdasakan data dari Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Pamekasan, 385 kasus terperinci sebgai perkara cerai gugat pada bulan Januari sebanyak 93 perkara, Februari 95 perkara dan pada bulan Maret sebanyak 69 perkara. Semuanya berjumlah 257 perkara


Sementara untuk perkara cerai talak pada bulan Januari tercatat sebanyak 48 perkara, Februari 47 perkara dan pada bulan Maret sebanyak 33 perkara. Artinya secara keseluruhan dalam tiga bulan terakhir sebanyak 128 perkara.


Panitera Muda Hukum PA Pamekasan, Hery Kushendar mengatakan bahwa dari kasus-kasus tersebut ada banyak faktor.


“Salah satunya adalah faktor ekonomi, ada pihak ketiga dan faktor Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)," tuturnya, Sabtu (20/04/2019).


Namun demikian, perkara isbat nikah (penetapan nikah) mendominasi selama tiga bulan terakhir. Pada bulan Januari tercatat sebanyak 249 perkara, Februari 62 perkara dan bulan Maret 27 perkara yang jumlah secara keseluruhan berjumlah 338 perkara.


“Adanya banyak faktor untuk perkara isbat nikah ini, misalnya dulu saat perkawinan mereka tidak punya uang. Ada pula mereka sudah mengajukan kepada kepala desanya, tetapi setelah diminta kepada kepala desanya tidak ada,” pungkasnya. (Heb/Ja)