Bupati Usulkan Kenaikan APBD Bidang Mutu Pendidikan di Sumenep

JATIMAKTUAL.COM, SUMENEP – Bupati Sumenep Dr. KH. A. Busyro Karim, M.Si memiliki kepedulian yang tinggi terhadap peningkatan mutu pendidikan di Kabupaten Sumenep. Pada kegiatan Konsultasi Publik Analisis APBD Fungsi Pendidikan Pro Mutu Pendidikan di Kabupaten Sumenep yang difasilitasi oleh Program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) dan Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, Bupati yang akrab dipanggil Busyro ini mengungkapkan, agar semua pihak mengevaluasi kembali dan menganalisis penggunaan anggaran pendidikan, berapa persen yang benar-benar dimanfaatkan untuk peningkatan mutu pendidikan.

“Penggunaan anggaran 2018 lalu hendaknya dianalisis kembali agar pendanaan untuk peningkatan mutu guru melalui palatihan dan pendampingan anggarannya lebih besar dibandingkan mengecat gedung sekolah. Sehingga anggaran 2019 penggunaannya bisa lebih maksimal,” ungkap Busyro.

Dalam rangka membangun masa depan anak-anak Sumenep dengan lebih baik, Busyro meminta semua pihak mulai berpacu untuk meningkatkan kualitas pendidik agar output siswa yang diajar juga lebih baik dan berdaya saing. “Generasi muda Sumenep kedepan jangan lagi menjadi generasi Stroberi. Indah dilihat dan menarik, tetapi cepat busuk. Artinya di sekolah nilainya selalu bagus tetapi tidak memiliki kompetensi untuk masuk dunia kerja. Di era sekarang guru berlomba dengan internet sehingga mereka harus selalu berupaya meningkatkan kapasitasnya, salah satunya dalam bentuk pelatihan,” ungkapnya.

Busyro menegaskan, semua orang harus mau melakukan perubahan, bila tidak mau berubah kearah yang lebih baik maka akan tergilas.
Dijelaskan oleh Aos Santosa selaku Education Policy Manager Program INOVASI, kondisi pendidikan di Kabupaten Sumenep jauh lebih baik dibandingkan dengan kabupaten yang lain di Madura. Komitmen yang tinggi di bidang pendidikan dan dukungan dari semua pihak termasuk kepala daerah menjadi modal pengembangan  pendidikan yang lebih baik di Sumenep. 
“Kami memberikan rekomendasi agar alokasi anggaran khususnya yang berfokus pada peningkatan kemampuan literasi dan numerasi peserta didik di kelas dapat ditambahkan, khususnya penambahan anggaran yang meningkatkan mutu pembelajaran secara langsung,” terangnya.


Kegiatan ini selain dihadiri oleh bupati, juga dihadiri perwakilan dari Bappeda, DPRD Komisi Pendidikan, Kelompok Kerja Kepala Sekolah, Kelompok Kerja Guru, Asosiasi Kepala Desa, perwakilan pengawas, dan Rumah Literasi Indonesia.

Dalam rangka sinergitas antara sekolah dan Rumah Literasi Indonesia, Lilik Rosida Irmawati Pengelola Rumah Literasi Indonesia memiliki beragam program yang bersinergi dengan sekolah seperti pelatihan menulis untuk guru, panggung mendongeng untuk siswa dan kunjungan literasi ke pulau-pulau. Dia berharap anggaran daerah untuk menyupport kegiatan literasi di Kabupaten Sumenep dapat dinaikkan sehingga jangkauan gerakan literasi tidak hanya di kota saja tetapi menyeluruh hingga ke pulau-pulau.*



Dua Kali Gagal Panen, Bapak Nia Beralih Tanam Padi Jenis MSP. Hasilnya Memuaskan?

JATIMAKTUAL, BONDOWOSO,- Dua kali gagal panen, membuat bapak Nia, salah satu petani di Desa Sulek, Kecamatan Tlogosari, Kabupaten Bondowoso, beralih ke bibit padi Mari Sejahtrakan Petani (MSP).

Bapak Nia menjelaskan bahwa, produksi padinya semula hanya berkisar 5 kwintal, setelah beralih menggunakan benih padi dari MSP, produksi padinya meningkat 1 Ton. Selasa, 05 Februari 2019.

"Saya sudah 2 kali gagal panen, salah satunya karena sulitnya mendapatkan air yang bisa dialirkan ke sawah dan mudahnya terserang penyakit. Sawah saya luas 180 M persegi hanya menghasilkan sekitar 5-6 kwintal perpanen, setelah beralih ke padi MSP sekarang sudah bisa 1 ton perpanen," kata Nia.

Ditemui di lahan sawahnya, bapak Nia mengakui kelebihan padi jenis MSP dibandingkan padi biasa.

"Padi jenis MSP memiliki banyak kelebihannya mas, seperti kebutuhan air sedikit, lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit, dapat digunakan untuk pertanaman sistim Rancah (musim hujan) dan sawah sulit air dan ladang," ucapnya.

Selaras dengan yang disampaikan bapak Nia, Joni Adiputera selaku pegiat MSP juga menyampaikan beberapa keuanggulan padi jenis MSP.

"Dibanding tanaman padi jenis lain, padi jenis MSP ini lebih toleran terhadap serangan hama dan penyakit terutama Blast dan Wereng, tanaman dapat di Ratun (seperti pertanaman tebu), setelah panen (tanpa harus dibabat lagi), sisa batang tanaman dipupuk kembali," kata Joni.

Pria kelahiran Sulek Tlogosari yang saat ini mencalonkan diri sebagai salah satu Calon Legislatif Kabupaten Bondowoso tersebut juga berharap agar tidak hanya bapak Nia yang bisa meningkatkan produksi padinya dengan menggunakan padi jenis MSP, tapi petani lainpun bisa menggunakan padi jenis MSC juga.

"Saat ini sudah ratusan petani yang menanam dengan padi MSP, seperti Kec Tapen, Prajekan, Tlogosari, Pujer, Wonosari dan sekitarnya," pungkas Joni.

Penulis : Arif
Editor   : Faisol

Berorganisasi :Pilih Identitas atau Kualitas?

Jatimaktual.com, Opini. - Berbicara tentang organisasi merupakan hal yang tidak asing lagi di kalangan akademisi maupun dikalangan manusia dalam golongan apapun itu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) organisasi adalah kesatuan (susunan) yang terdiri atas bagian-bagian (orang) dalam perkumpulan untuk mencapai tujuan tertentu.

Organisasi juga difenisikan oleh seorang ahli ekonomi politik dan sosiolog dari Jerman yang dianggap sebagai salah satu pendiri ilmu sosiologi dan administrasi negara modern yaitu Max Weber. Menurutnya organisasi adalah suatu kerangka hubungan terstruktur yang didalamnya terdapat wewenang, dan tanggung jawab serta pembagian kerja menjalankan sesuatu fungsi tertentu.

Dalam perspektif Al Quran terdapat dua kata bantu untuk mempelajari pengorganisasian. Kata tersebut adalah (Shaf ) dan (ummat ).

Kata oganisasi secara definitif menurut sebagian orang bisa dikatakan mudah akan tetapi secara esensi atau hakikat organisasi tidak semua orang mudah memaknainya. Mengapa demikian??? 

 Hal tersbut karena banyak hal yang terjadi dalam "berorganisasi" dan berorganisasi bukan hanya sebatas untuk eksistensi semata. 
Eksistensi bisa diartikan keberadaan. 

Keberadaan sesorang di organisasi dalam arti positif dan negatif. Dalam hal ini yang seringkali terjadi ialah ekstistensi organisasi dalam arti negatif.

Eksistensi "identitas:" seseorang di organisasi  sebenarnya tak perlu untuk dicari (mencari nama), jika sesorang berorganisasi dengan sungguh-sungguh maka akan berkualitas. Juga eksistensi atau nama seseorang dalam organisasi  akan mengikuti dengan sendirinya, tanpa perlu mencari nama, numpang naruh nama dalam berorganisasi.

Mudahnya saja begini tidak penting seberapa banyak nama kita terpajang dalam struktur organisasi tapi seberapa banyak peran kita untuk organisasi. 

Refleksi diatas sesuai dengan yang dialami oleh penulis yang telah terdoktrin oleh paham berorganisasi.

 Pada dasarnya organisasi itu semuanya memang baik , tapi tergantung bagaimana kita berproses didalamnya. "MAN JADDA WAJADA, WA MAN ZARA'A HASADA, WA MAN YAJTAHID YANJAH" yang artinya "Siapapun yang berjuang (insyaAllah) akan mendapatkan apa yang dia kerjakan, Siapapun yang menanam (insyaAllah) akan menuai hasilnya, Siapapun yang berjuang (insyaAllah) akan mendapatkan kesuksesan". Bagaimana kita bisa lebih baik kalau hanya ikut saja dan parahnya sekedar naruk/pajang nama, kalau bahasanya mahasiswa itu hanya identitas/title berorganisasi begitu. 

Sungguh betapa indahnya jika kita memang betul-betul menyelami organisasi dan bisa memanfaatkanya dengan baik. Tak heran juga tidak jarang yang berorganisasi hanya sekedar untuk naruk/pajang nama saja. Hal demikian akan terus berkelanjutan jika kita kita hanya percaya terhadap dogma-dogma sekeliling kita yang apatis terhadap organisasi. Meskipun sebenarnya berorganisasi itu sangat indah.

 Berorganisasi dengan baik dengan cara jangan tanggung-tanggung,  Kalau memang sudah terjun dalam organisasi nyemplung saja sekalian. Pasti tak luput dari ujian maupun rintangan dalam berorganisasi, dan salah satu hal yang sering kita alami ialah sebuah doktrin dari berbagai teman yang apatis terhadap organisasi. hiraukan saja temen-temenmu yang memang apatis terhadap organisasi. Karena pada hakikatnya semua organisasi itu baik dan tergantung orang-orang yang menjalankan roda organisasi tersebut.  

Kita sebenarnya mempunyai potensi namun terkadang kita sendiri tidak mengetahuinya, dengan berorganisasilah kita bisa menemukannya. Dalam proses berorganisasi perlu kita gali bagaimana potensi maupun skill yang ada dalam diri kita. Dan itu semua ada pada diri kita masing-masing untuk menentukan pilihannya. Mengasah intelektual memang sudah tempatnya di organisasi namun bukan sekedar tentang intelektualiatas saja kita berorganisasi. Tentang bagaiman kita memahami dengan sesama juga ada dalam organisasi dan secara teori sosial manusia itu tidak bisa hidup tanpa orang lain (zoon politicon).

PEMUDA DESA
Oleh.  Abu Hasan 
Mahasiswa IAIN Jember

Dibalik Realita, Hoaks atau Fakta

Jatimaktual.com, Opini - Menyikapi adanya respon terhadap pergantian rektor baru di IAIN Jember yang menggunakan sistem tidak transparan dalam hal penyeleksian para kandidatnya, saya mulai risih apalagi dengan hadirnya beberapa komentar yang menyudutkan tulisan saya dengan menuduh tulisan yang saya muat berpihak pada kelompok tertentu bahkan ada yang mengatakan tulisan saya merupakan hoaks (entah berdasarkan data dari mana dan berdasarkan sudut pandang bagaimana).

Tulisan kali ini, saya akan menjelaskan dua poin dalam deskripsi diatas.

Pertama, mengapa saya katakan pergantian rektor baru menggunakan sistem yang tidak transparan? Karena jelas banyak kecacatan-kecacatan yang diabaikan dan sudah smenjadi rahasia umum, kita ketahui bahwa dalam lembar penjaringan bakal calon rektor IAIN Jember periode 2019-2023 dengan nomor surat B-3096/In.20/KP.07.6/11/2018 yang dikeluarkan pada tanggal 12 November 2018 dan sudah di tanda tangani sekaligus di stempel oleh Prof. Dr. Babun Suharto S.E M.M selaku rektor IAIN Jember menyatakan bahwa akan melaksanakan Peraturan Menteri Agama Nomor 68 Tahun 2015 tentang Pengangkatan dan Pemberhentian Rektor dan Ketua pada Perguruan Tinggi Keagamaan yang diselenggarakan oleh Pemerintah. Secara otomatis ketika akan melaksanakan peraturan menteri tersebut, maka aturan-aturan yang digunakan juga mengikuti peraturan yang sudah ditetapkan oleh Menteri Agama dan hal ini juga sudah terlampir dalam surat Nomor: B-3093/In.20/PP.00.9/11/2018. Dalam lampiran surat tersebut dijelaskan beberapa poin diantaranya Ketentuan Umum meliputi masa jabatan, persyaratan umum dan persyaratan khusus calon, Jadwal Pelaksanaan Penjaringan, Tata Cara Pendafataran dan Ketentuan Lain.

Saya akan jelaskan perlahan-lahan beberapa kecacatan yang terjadi agar teman-teman pembaca tau betapa mahalnya kepercayaan yang dikhianati dengan kebohongan.
Penyebaran adanya kabar 8 Dosen IAIN Bersaing menuju kursi paling tinggi di IAIN Jember yang dimuat dalam radarjember.jawapos.com sudah beredar pada tanggal 5 Desember 2018, namun sekertaris panitia pemilihan rektor, Abdus Syakur mengatakan pada wartawan bahwa “delapan calon itu berkasnya sudah diterima dan akan diverifikasi oleh panitia”.

Sedangkan dalam surat Nomor: B-3093/In.20/PP.00.9/11/2018 tentang Jadwal Pelaksanaan Penjaringan poin 4. Pengumuman Hasil Verifikasi dilaksanakan pada tanggal 7 Desember 2018 dan pengumuman ini harus disebar luaskan, namanya juga pengumuman. 

Namun sayangnya tidak ada kabar lagi mengenai kandidat yang lolos verifikasi ataukah adanya 8 nama yang beredar di berita tersebut sudah menjadi kandidat rektor? Entah saya kurang tau juga karena memang tidak ada berita lagi yang menyebarkan info nama-nama kandidat yang sudah lolos verifikasi. 

Kelalaian pertama, panitia penjaringan kurang transparan dalam menjalankan sistem yang sesuai dengan aturan menteri agama dan tidak sesuai dengan alur pelaksanaan penjaringan bakal calon rektor sesuai dengan peraturan menteri sebagaimana dijelaskan diatas. Seharusnya yang diumumkan adalah bakal calon yang sudah di verifikasi dan itu tercantum dalam alur pelaksanaan penjaringannya pada tanggal 7 Desember 2018. Bukan malah nama dosen yang masih akan diverifikasi kelengkapan administrasinya. 

Kelalaian kedua, ada salah satu dari 8 nama dosen tersebut yang baru lulus program S.3 pada tanggal 4 Januari 2019. Dosen tersebut juga masuk dalam urutan nama bakal calon rektor IAIN Jember. Jika nama dosen tersebut masuk dalam urutan nama yang lolos verifikasi administrasi kandidat rektor baru, maka hal ini perlu dipertanyakan. Karena pengumuman nama dosen yang lolos verifikasi dilakukan pada tanggal 7 Desember 2018, sedangkan dosen tersebut baru lulus sidang terbuka program S.3 pada tanggal 4 Januari 2019. 

Dalam surat Nomor: B-3093/In.20/PP.00.9/11/2018 tentang Ketentuan Umum poin 3. Persyaratan Khusus Bakal Calon Rektor IAIN Jember masa jabatan 2019-2023 dijelaskan dalam uraian 1. Lulusan Program Doktor (S3) disertai bukti photocopy ijazah S.3 dilegalisir. 

Hal ini menimbulkan pertanyaan apabila nama dosen tersebut lolos dalam verifikasi data yang ia miliki. Jika benar ia lolos, maka muncul sebuah pertanyaan, apakah panitia pemilihan rektor IAIN Jember masih objektif?

Kelalaian ketiga, panitia pemilihan rektor yang dipilih oleh rektor sesuai dengan pasal 5 ayat 1 (a), Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 68 Tahun 2015 secara khusus berada dibawah pengawasan dan kebijakan rektor selaku orang yang memiliki kewenangan. Apabila ada sedikit kelalaian yang dilakukan baik itu sengaja maupun tidak, maka rektor selaku pemangku kewenangan harus mengambil sikap dengan tegas. Salah satu kelalaian yang sudah dilakukan diantaranya poin yang sudah saya tulis diatas.

Jika kelalaian tersebut tetap dibiarkan entah karena unsur kesengajaan ataupun tidak, maka julukan Kampus Islam Nusantara untuk IAIN Jember sudah ternodai oleh kedzaliman tangan-tangan tidak bertanggung jawab.

Kedua, saya mulai risih dengan hadirnya beberapa komentar yang menyudutkan tulisan saya dengan menuduh tulisan yang saya muat berpihak pada kelompok tertentu bahkan ada yang mengatakan tulisan saya merupakan hoaks. 

Saya menulis bukan karena saya ingin dikenal, saya menulis bukan karena saya dekat dengan salah satu kubu dari nama-nama yang terpampang di media cetak dan media sosial dan saya menulis bukan karena saya ingin mendapatkan sesuatu. Akan tetapi saya menulis hanya untuk memaparkan keburukan yang terjadi agar keadilan sosial masih berlaku bagi seluruh rakyat Indonesia. 

Disisi lain saya jadikan tulisan ini sebagai salah satu bentuk nahi munkar dan bisa dipertanggung jawabkan kepada siapapun yang mengajak saya secara terbuka, karena informasi hoaks dan tuduhan tanpa sebab salah satunya adalah tidak memiliki sumber yang jelas, sumber data tidak valid serta tidak bisa dipertanggung jawabkan kepada siapa akan menuntut. Jadi semisal ada orang ataupun golongan yang mengajak saya di forum terbuka untuk membahas semua yang sudah saya tulis, saya siap untuk bertanggung jawab. Karena nama dan identitas saya selaku penulis sudah tertera jelas. 

Sebagai penutup tulisan saya kali ini, jika ada yang beranggapan saya memihak pada kubu tertentu kemudian sampai berfikir saya menulis semua ini dibayar, maka anggapan tersebut salah besar. Karena sampai detik ini pun saya masih dalam keadaan lapar dan belum punya uang untuk makan. Hehehe jangan terlalu serius lah...

Pesan saya bagi segenap pembaca, kita dalam lingkup kampus memang tidak memiliki kewenangan untuk mengurusi pemilihan rektor baru ini, namun kita memiliki hak untuk membaca dan menganalisa bahkan mengritik sekalipun. Karena kita adalah warga yang ada di kampus utamanya mahasiswa yang merupakan generasi penerus para pemimpin masa kini. 

Sekian dari saya, saya bukan orang yang pintar apalagi sok pintar. Saya hanya menulis apa yang saya baca dari mata saya berdasarkan fakta yang saya ketahui, lebih baik diasingkan daripada diam dalam kemunafikan, Soe Hok Gie.

PC PMII Surabaya Klarifikasi atas Pamflet Hoax yang Tersebar

(28/01/19) Pengurus Cabang PMII Surabaya mengklarifikasi atas tersebarnya pamflet yang mengatasnamakan PMII Surabaya bahwa PMII Surabaya melarang kegiatan PKC ditaruh di Surabaya.

Hal itu disampaikan oleh Jabir selaku Sekretaris Umum PC PMII Surabaya. "PC PMII Surabaya Menyatakan Pamflet yg beredar  buatan dari Oknom. bukan dari kelembagaan PC PMII Surabaya". Ia menyatakan bahwa PC PMII Surabaya tidak pernah melarang PKC berkegiatan di Surabaya.

Hal ini berawal dari pamflet yang tersebar di kalangan kader PMII Jawa Timur. Dan menimbulkan gejolak di kalangan PMII. Jabir menjelaskan bahwa pamflet itu tidak benar yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Atas tersebarnya Pamflet itu, PC  PMII Jember juga berkomentar. Abd. Latif Azzam Sekum PC PMII Jember mengatakan. "Tidak usah diperbesar. Jika memang hal itu dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Kita harus tetap menjaga hubungan persahabatan antara PMII Jember dan Surabaya. Jangan mudah terprovokasi yang bisa memecahbelah persahabatan. Silahkan diselesaikan dengan cara-cara yang arif dan bijak." Ungkapnya.